Kiai Salahuddin Wahid atau biasa disapa Gus Sholah, merupakan sosok ulama Nahdlatul Ulama (NU) karismatik. Ia dikenal sebagai salah seorang cendekiawan muslim hingga aktivis kemanusiaan yang sangat berpengaruh, baik di bidang sosial, keagamaan, hingga politik.
Dilansir dari website Laduni, Gus Sholah lahir di Jombang, 11 September 1942. Beliau adalah putra ketiga dari enam bersaudara pasangan KH. Wahid Hasyim (ayah) dan Sholichah (ibu). Sejak kecil Gus Sholah sudah terbiasa dengan lingkungan pendidikan, baik agama maupun secara umum.
Ketika awal pendidikan dasarnya yang ditempuh di SD Kebangkitas Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS), di mana saat itu para gurunya tidak sedikit yang menjadi anggota pergerakan, termasuk orang-orang komunis. Pengalaman inilah yang membuat Gus Sholah terbiasa hidup dan berbaur di lingkungan heterogen.
Singkat cerita, antara tahun 1955-1958 Gus Sholah melanjutkan sekolahnya di SMP I Negeri Cikini, SMA Negeri I Budi Utomo yang termasuk sekolah favorit dan melanjutkan perguruan tingginya ke Institut Teknologi Bandung (ITB) memilih jurusan arsitektur.
Gus Sholah sejak masih duduk di bangku kuliah mulai merintis karirnya di bidang kontraktor. Kemudian pada tahun 1970 ia pun mendirikan perusahaan kontraktor bersama dua orang temannya dan kakak iparnya yaitu Hamid Baidawi.
Tujuh tahun berlalu, tepatnya pada 1977 perusahaan yang dibangun Gus Sholah bersama teman dan kakak iparnya itu harus berakhir.
Selanjutnya setelah ia tidak memegang lagi usahanya itu, Gus Sholah bergabung dengan biro konsultan PT MIRAZH sebagai Direktur Utama Perusahaan Konsultan Teknik (1978-1997), Ketua DPD Ikatan Konsultan Indonesia/Inkindo DKI (1989-1990), Sekretaris Jenderal DPP Inkindo (1991-1994), Assosiate Director Perusahaan Konsultan Properti Internasional (1995-1996), dan masih banyak pengalaman lainnya.
Sebagai seorang keturunan Masyayikh, karir yang ditempuh oleh Gus Sholah memang berbeda dengan saudaranya yang lain. Misalnya Gus Dur yang sejak kecil sudah mendalami ilmu agama Islam khususnya dalam bidang kepesantrenan.
Hingga pada tahun 1998 Gus Sholah meninggalkan semua karirnya itu yang berlatar belakang arsitektur itu. Ia mulai fokus membaca dan menulis. Selanjutnya tahun 1993, Gus Sholah menjadi pimpinan redaksi Majalah Konsultan. Setalah itu aktif menulis di harian Republika, Kompas, Suara Karya, dan lain sebagainya.
Tulisan-tulisan Gus Sholah banyak menyoroti berbagai persoalan yang sedang dihadapi umat, dan bangsa. Pemikiran-pemikiran dan gagasan-gagasannya seringkali berbeda dengan Gus Dur. Bahkan ia pernah berpolemik dengan Gus Dur tentang hubungan agama dan negara.
Selain menulis di media massa, Gus Sholah juga banyak melahirkan karya ke dalam buku, yaitu di antaranya: Negeri di Balik Kabut Sejarah (November 2001), Mendengar Suara Rakyat (September 2001), Menggagas Peran Politik NU (2002), Basmi Korupsi, Jihad Akbar Bangsa Indonesia (Nopember 2003), Ikut Membangun Demokrasi, Pengalaman 55 Hari Menjadi Calon Wakil Presiden (Nopember 2004).