Chaudry mengatakan, meskipun ketidakhadiran pelajar muslim di kelas pada Idul Fitri dimaklumi, namun keputusan sekolah untuk tetap buka merugikan pelajar muslim.
“Kalau Idul Fitri kelas tetap berjalan dan Guru tetap mengajar. Pelajar muslim yang absen karena merayakan hari besar agamanya akhirnya ketinggalan pelajaran. Kalau ujian kebetulan jatuh pada hari besar muslim, mereka juga akan terpaksa mencari hari pengganti ujian," terang Chaudry.
Namun sejatinya pengertian sekolah tutup di sini sebetulnya juga tidak sepenuhnya benar. Pada Hari Idul Fitri, para pelajar memang diliburkan, namun para staf sekolah tetap harus bekerja seperti biasanya.
Seperti dilansir dari VOA, Dewan Pendidikan menyebut hari itu sebagai hari pengembangan profesional, di mana para guru dan staf lain membahas berbagai hal untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan karir mereka.
Usaha untuk meliburkan sekolah pada Idul Fitri sudah berlangsung sejak tahun 2014, namun menghadapi berbagai kendala. Tahun 2017, Dewan Pendidikan Montgomery bahkan sempat menghapus semua hari besar agama dari daftar hari libur sekolah karena banyaknya tuntutan akan perlakuan yang sama terhadap agama-agama lain. Namun kemudian mereka merevisinya.
Pada tahun 2019, mereka mulai mempertimbangkan Idul Fitri sebagai hari libur sekolah.
Juru Bicara Asosiasi Sekolah-Sekolah Negeri di Montgomery, Derek Turner mengatakan, keputusan Dewan Pendidikan Montgomery mencerminkan guru-guru dan pihak berwenang dunia pendidikan menginginkan agar semua pelajar merasa aman, diterima dan dihormati di sekolah mereka masing-masing.
(Dyah Ratna Meta Novia)