Salma Arastu merupakan seorang seniman dari India. Orangtuanya meninggalkan rumah mereka di Pakistan untuk bermukim di India saat terjadi konflik di Pakistan pada 1947.
Begitu orangtuanya pindah ke India, beberapa tahun kemudian Arastu dilahirkan. Namun ayahnya yang seorang dokter, meninggal akibat serangan jantung. Tumbuh di India, ia memutuskan untuk menjadi seniman dan belajar seni di sekolahnya.
Dilansir dari Los Angeles Times, Rabu (12/2/2020), Arastu mengatakan, usai lulus dari sekolah seni di India, ia memutuskan untuk menjadi mualaf dan memeluk Islam.
Kala itu ia mau menikah dengan seorang arsitek muslim. Perjalanan menjadi mualaf memang tak mudah, namun akhirnya dia bisa melewatinya dengan baik.
Begitu masuk Islam dan menikah, Arastu dan suaminya pindah ke Iran, kemudian ke Kuwait, ke Bethlehem, Pennsylvania, dan akhirnya California, Amerika Serikat.
Saat di Iran itulah Arastu pertama kali menyaksikan kaligrafi Islam. Tulisan kaligrafi itu berasal dari ayat-ayat Alquran atau Hadist Nabi. Ia sangat terpesona menyaksikan keindahan kaligrafi tersebut.
Meskipun dia belum bisa membaca bahasa Arab, dia mulai mempelajari cara menulis kaligrafi. Bahkan ia mulai meniru tulisan kaligrafi tersebut.
Bertahun-tahun kemudian, setelah serangan teror 11 September di AS, ia mulai menulis kaligrafi dari sekedar sketsa di buku, ia tuangkan ke kanvas. Tujuannya menunjukkan kepada dunia kalau Islam adalah agama yang indah dan penuh kelembutan.
Arastu sekarang menjadi seniman yang membawa kaligrafi Islam ke dalam gaya baru dan cara-cara baru untuk menyatakan kepercayaan, bahkan politik.
Karya-karya seni Arastu sekarang ditampilkan di galeri dan museum di Washington DC, Houston, St. Louis, dan Portland, Ore. Dia juga membuat dua pertunjukan seniman perempuan muslim di Bay Area.
“Itu adalah mimpiku. Saya ingin menunjukkan kepada orang-orang apa yang diajarkan Alquran tentang keberagaman, komunitas, persahabatan, dan perdamaian," terang Arastu.