Nurul Aisiyah merupakan gadis asal Banjarnegara, Jawa Tengah. Ia bekerja sebagai asisten rumah tangga.
Nurul, sapaan akrabnya bekerja sebagai asisten rumah tangga sejak lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada 2018 silam.
Usianya masih sangat belia, yakni 18 tahun. Namun jalan hidupnya tak seindah teman sebayanya. Semenjak lulus SMP, ia sudah merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib menjadi asisten rumah tangga.
Nurul telah bekerja di sejumlah tempat, dan kini ia bekerja di salah satu rumah konglomerat di wilayah Serpong, Tangerang, Banten.
Jika Nurul melanjutkan pendidikannya, bisa jadi ia sudah duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Namun, keinginan untuk berseragam putih abu-abu harus ia kubur setelah ditentang orangtuanya.
"Sebenarnya saya dulu ingin SMA dan mondok, tapi nggak dibolehin sama orang tua," ujar Nurul dengan suara berat dan mata yang berkaca-kaca.
Meninggalkan dunia pendidikan dan harus bekerja pun sebenarnya bukan keinginan pribadi Nurul. Namun desakan ekonomi yang menghimpit keluarganya, membuat Nurul harus merelakan masa mudanya untuk digadaikan dengan perjuangan mengais rezeki. Penghasilannya tak seberapa, namun ia tetap bersemangat demi keluarganya.
Suatu ketika, Nurul mendapat informasi tentang beasiswa Pesantren Tahfidz Daarul Qur'an Takhassus. Hasratnya untuk belajar Alquran yang sudah lama terpendam pun muncul kembali. Ia seperti menemukan jalan dari rangkaian doa-doanya selama ini. Akhirnya ia memutuskan untuk mendaftarkan diri.
Sang majikan yang notabene merupakan non muslim ternyata mendukung dan mengizinkan Nurul untuk mengikuti seleksi. Nurul pun datang ke lokasi seleksi menggunakan ojek online seorang diri.
"Alhamdulillah, bos saya dukung banget, saya diizinkan ikut. Tadi ke sini naik ojek online," tuturnya.
Nurul mengaku, jika ia lolos seleksi dan diterima menjadi santri Pesantren Tahfidz Daarul Qur'an Takhassus, ia akan merelakan pekerjaannya menjadi asisten rumah tangga dan fokus menghafal Alquran.
Selain itu, dirinya pun telah siap jika suatu saat nanti harus berdakwah menjadi kader Daarul Qur'an. "InsyaAllah siap, saya memang ingin sekali mondok dari dulu. Makanya setelah dapat info ini, saya tertarik," ungkap Nurul.
Setelah mengikuti seleksi beasiswa Pesantren Tahfidz Daarul Qur'an Takhassus wilayah Jabodetabek di Gedung STMIK Antar Bangsa, Tangerang pada Sabtu (14/3) lalu, Nurul pun kembali ke tempat di mana ia bekerja sembari menunggu kabar diumumkannya peserta yang lolos.
Ia sangat berharap dapat lolos dan menghafal Alquran hingga dapat membuat bangga orangtua dan seluruh keluarganya.