Ramadhan dan Kesehatan Mental, Orang Bertakwa Tidak Panik Saat Wabah Corona

, Jurnalis
Kamis 23 April 2020 07:04 WIB
Share :

Ramadhan identik dengan cuaca ekstrem. Asal katanya ramada-yarmidu yang artinya kedinginan dan membinasakan. Turunan dari kata tersebut rammad, yang artinya membakar dan memadamkan.

Di Arab, ketika Ramadhan berlangsung pada musim panas, siang hari di atas 40 derajat celcius. Sementara pada saat musim dingin, malam hari mencapai 10 derajat celcius. Nama Ramadhan mungkin diambil dari kondisi ekstrem tersebut.

Nama Ramadhan apabila dihubungkan dengan ibadah shaum (puasa) identik dengan pengendalian diri. Di atas diartikan dengan “membakar” artinya menggugurkan dosa. Khususnya perbuatan buruk. Di atas juga diartikan dengan “memadamkan” artinya menahan melakukan hal-hal yang semula diperbolehkan.

Dua pengertian tersebut menandakan pada bulan Ramadhan terjadi penempaan mental. Hal yang diperbolehkan, pada bulan harus dibatasi dan dikendalikan. Inilah langkah menuju kesehatan mental.

Konsep Pengendalian

Puasa dalam bahasa Arab disebut dengan shaum. Arti kata ini adalah imsak, menahan diri. Sinonim kata tersebut adalah as-shabru yang artinya sabar. Menahan diri dari apa? Dari al-hawaa’u, yakni segala keinginan yang berorientasi pada diri sendiri.

Makan, minum, dan jima’ (bersetubuh) merupakan bentuk kesenangan yang berorientasi pada diri sendiri. Sama dengan hewan pada umumnya, melakukan tiga hal tersebut. Artinya, perkara yang dikendalikan dalam puasa adalah perkara dasar makhluk hidup. Bisa disebut urusan hewaniyah.

Menurut MacLean otak manusia memiliki tiga bagian, dikenal dengan teori triune brain (DePorter & Hernacki, 2001). Pertama, otak reptil. Fungsinya mengatur sistem motorik dan gerak reflek akibat bahaya yang mengancam. Respons terhadap bahaya hadapi (fight) atau menghindar (flight). Sama seperti reptil pada umumnya.

Kedua, sistem limbik, yakni bagian otak yang mengatur emosi. Senang, sedih, marah, bahagia, termasuk salah satunya lapar. Meskipun perasaan manusia lebih kompleks dari hewan. Pada hewan didominasi rasa lapar. Bahagia bagi hewan adalah kenyang. Marah bagi hewan bentuk pertahanan diri. Tidak lebih dari itu.

Ketiga, neokorteks, yakni bagian otak yang mengatur segala bentuk kecerdasan. Mengatur logika, berbahasa, berbagai macam kecerdasan, norma, dan sebagainya. Bagian otak ini hanya ada pada manusia. Hewan tidak dikaruniai sistem ini.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya