Mengutip dari Muslim.or.id, banyak keutamaan ketika umat Islam menjalankan sunah. Dari ‘Amr bin ‘Auf bin Zaid al Muzani Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِى فَعَمِلَ بِهَا النَّاسُ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا
Artinya: "Barang siapa yang menghidupkan satu sunah dari sunah-sunahku, kemudian diamalkan oleh manusia, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun." (HR Ibnu Majah (no. 209), pada sanadnya ada kelemahan, akan tetapi hadits ini dikuatkan dengan riwayat-riwayat lain yang semakna, oleh karena itu syaikh al-Albani menshahihkannya dalam kitab “Shahih Ibnu Majah” (no. 173).
Hadis yang agung tersebut menunjukkan keutamaan besar bagi orang yang menghidupkan sunah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, terlebih lagi sunah yang ditinggalkan banyak orang.
Sementara Imam Ibnu Majah mencantumkan hadis tersebut dalam kitab 'Sunan Ibnu Majah' pada Bab: '(Keutamaan) orang yang menghidupkan sunah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah ditinggalkan (manusia).' (Kitab 'Sunan Ibnu Majah' 1/75).
Imam Muhammad bin Ismail al Bukhari berkata, "Seorang Muslim yang paling utama adalah orang yang menghidupkan sunah-sunah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah ditinggalkan (manusia), maka bersabarlah wahai para pencinta sunah (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), karena sesungguhnya kalian adalah orang yang paling sedikit jumlahnya (di kalangan manusia)." (Dinukil oleh Imam al Khatib al Baghdadi dalam Kitab Al-Jaami' Li Akhlaaqir Raawi 1/168).
(Hantoro)