Tausiyah: Beriman kepada Virus Corona (1)

, Jurnalis
Kamis 04 Juni 2020 04:34 WIB
Share :

Jikapun kita meyakininya, corona ini semestinya kita imani dengan sungguh-sungguh dan tidak setengah-setengah bahwa ia bagian dari kehendak qadha dan qadar-nya Allah; khairihi wa syarrihi. Sisi buruknya sekaligus segala sisi baiknya.

Jangan sampai tersuruk seperti beberapa orang Yahudi di Madinah ketika mereka menertawakan Muhammad bahwa Tuhannya terlalu naif dengan menyampaikan permisalan seekor lalat, laba-laba, dan makhluk-makhluk kecil lainnya. Mereka – Yahudi Madinah itu – mengolok-olok, “Kalau Allah itu Mahatinggi, mengapa Ia membuat permisalan dengan makhluk kecil?“

Kita memang tak mengolok-olok Allah secara verbal segamblang itu, tetapi kadang melangsungkan penolakan-penolakan yang sama sekali tidak mencerminkan faya’lamuuna annahul haqqu min rabbihim. Kita kehilangan kewarasan dengan menyingkirkan Allah dari ruang-ruang politik dan kebijakan.

Kita menafikkan sains dan mengabaikan bukti ilmiah padahal keduanya adalah anak tangga ketuhanan yang tak bisa dilepaskan sama sekali dari keimanan. Laa tanfudzuuna illa bisulthaan. Bumi dan langit ini tidak dapat ditaklukkan kecuali dengan memahami data, menguasai sains dan pengetahuan sosial, dan menghimpun bukti ilmiah sebagai dasar langkah intervensi.

Jikapun kita yakin Corona adalah bagian dari kehendak Allah, keimanan kita kepada Corona juga harus didudukkan secara proporsional dalam perspektif yang komprehensif: ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan dan kesehatan.

Kita sering menabrak-nabrakkan antara kepentingan kesehatan dan kepentingan ekonomi seolah keduanya harus selalu saling mengalahkan. Padahal, jika melihat tujuan (maqashid) keduanya secara tepat, tak ada alasan untuk membentur-benturkannya. Pengendalian epidemi penyakit dan penguatan layanan kesehatan dapat dipahami dengan mudah sebagai langkah menyelamatkan nyawa banyak manusia. Hifzh an nafs.

Pada sisi yang lain, penyelamatan ekonomi juga berupaya demikian. Yang dapat kita bayangkan dari bisnis yang berhenti dalam skala besar dan tempo yang lama adalah angka pengangguran yang meningkat – yang secara simultan berisiko meningkatkan pula gangguan mental, depresi, bahkan angka bunuh diri.

(Baca Juga : Viral Kata Corona Ada dalam Ayat Alquran? Ini Penjelasannya)

Kita memang tak memiliki datanya saat ini, tetapi pengalaman resesi besar (great recession) di tahun 2008 mencatat angka mengejutkan. Dalam tempo singkat, angka bunuh diri di Amerika meningkat 3.8%, setara dengan kematian 1330 jiwa bunuh diri.

Mereka yang kehilangan pekerjaan, dan terjebak dalam jurang kefakiran, juga berisiko lebih besar untuk mencari pembenaran melakukan kekufuran di tengah keserbatidakpastian lapangan pekerjaan. Produksi mampet. Jumlah pekerja terpaksa dikurangi.

Persoalan ekonomi semacam ini harus secara serius ditempatkan sebagai variabel determinan dalam keputusan kita menghadapi problem coronavirus. Pada titik ini, upaya pengendalian ekonomi juga harus dimaknai dan, tentu saja, ditujukan sebagai langkah penyelamatan jiwa, bahkan agama. Hifzh ad diin.

Oleh: dr. Ahmad Fuady, M.Sc.-HEPL

Peneliti di Erasmus University Medical Centre, Rotterdam, Belanda dan staf pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

(Muhammad Saifullah )

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya