RAHMI Kusbandiah Sya’ban dengan sabar melakoni pekerjaannya sebagai sebagai penyuluh agama Islam di Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Ya, nama Rahmi menyita perhatian netizen manakala fotonya sedang mengurus jenazah di panti jompo Mataram di tengah pandemi Covid-19 beredar di media sosial.
Kasie Pengembangan Penyuluh Agama Islam Kemenag, Amirullah bergerak mencari informasi mengenai Rahmi. Menurut informasi yang diperoleh, Rahmi merupakan Ketua Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Provinsi NTB.
Melalui sambungan telepon, Rahmi menceritakan pengalamannya saat harus memandikan jenazah pasien Orang Dalam Pengawasan (ODP) kasus Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).
“Pertama yang kami rasakan, ketakutan dan kekhawatiran itu pasti ada. Apalagi dalam suasana yang seperti ini,” kata Rahmi, melansir dari website Kemenag.
Baca juga: Youtuber Mualaf Asal Korea Cover Lagu 'Aisyah Istri Rasulullah', Bikin Adem
Akan tetapi, perlahan rasa takut itu pupus oleh kesadaran akan kewajiban yang lebih besar sebagai seorang muslim, terlebih dia menyandang status sebagai Penyuluh Agama Islam Fungsional (PAIF) yang tentunya bertugas melayani masyarakat.
"Kewajiban kita sebagai muslim yang hidup kepada saudara kita yang meninggal kan memandikan, mengkafani, menyolatkan, dan menguburkan,” tuturnya.
“Nah kalau kita yang bisa saja tidak berani melakukannya, lalu siapa yang akan melakukannya? Berangkat dari sebuah kewajiban dan hati nurani, ditambah lagi kita harus ikhtiar dengan melengkapi diri dengan alat pelindung diri (APD), Bismillah kita lakukan,” kata Rahmi yang telah menjadi ASN Kemenag sejak tahun 2000 silam itu.
Selama masa pandemi Covid-19, Rahmi bersama 4 penyuluh agama honorer Kota Mataram telah menyiapkan diri untuk melayani masyarakat, salah satunya memberikan kesediaan untuk mengurus jenazah pasien yang terpapar Covid-19.
“Terutama kami mengurus pasien yang ODP. Karena kalau jenazah berstatus Pasien Dalam Pengawasan, sesuai protokol diurus langsung oleh pihak rumah sakit,” ujar Rahmi.
Baca juga: Erdogan Ingin Kembalikan Hagia Sophia sebagai Masjid?
Dia menjelaskan, peran penyuluh agama sebagai pendamping masyarakat amat penting di tengah pandemi Covid-19 ini. Rahmi pun sadar kehadirannya di tengah masyarakat akan meringankan beban psikologis masyarakat untuk menghadapi pandemi.
“Kebetulan kita di Kota Mataram dan NTB secara umum kita mulai sangat-sangat waspada di bulan Maret. Saya sendiri memberikan penyuluhan melalui radio saat pandemi mulai merebak, kita sudah antisipasi sejak bulan Maret. Pertengahan Maret sudah mulai agak tegang, dan sudah ada pasien positif di NTB. Itu masyarakat sudah mulai ketakutan, dan mulai paranoid lah,” kata dia.