Satu Orang dalam Keluarga Harus Berani Urus Jenazah
Pekerjaan mengurus jenazah telah digeluti Rahmi sejak 9 tahun silam. Rahmi mengaku memiliki program untuk memberikan bimbingan penyuluhan terkait dengan pengurusan jenazah.
"Saya ingin satu keluarga itu, minimal satu orang yang bisa dan berani mengurus jenazah. Karena bisa saja ndak cukup kalau ndak berani," ujar Rahmi.
Berbeda dengan kebanyakan penyuluh yang menjadikan majelis taklim sebagai kelompok binaan, Rahmi melebarkan sasaran dakwahnya kepada komunitas-komunitas umum dalam masyarakat.
“Saya mengajarkan pengurusan jenazah ini kepada para guru di PGRI, komunitas RT, RW, kelurahan, dan juga remaja,” ungkap Rahmi.
Rahmi menuturkan, program penyuluhannya itu berangkat dari sebuah keprihatinan karena masih terbatasnya kemampuan dan keberanian masyarakat untuk melakukan serangkaian pengurusan jenazah.
“Ini berangkat dari sebuah keprihatinan, saya sering datang melayat sampai menjelang pemakaman kok belum dimandikan,” ucapnya.
“Ada beberapa kasus yang saya lihat, terutama di komplek-komplek perumahan itu sampai sore belum dimandikan. Saya tanya kenapa belum dimandikan? Yang petugas memandikannya belum datang. Jadi yang meninggal itu di Mataram, sementara memandikannya dari orang luar,” kisahnya lagi.