BERPIKIR sebelum berucap, itulah yang biasa dilakukan orang bijaksana. Mereka akan hati-hati dengan kata-kata, karena perkataan adalah doa. Ketika mengucapkan sesuatu berarti telah memberikan kehidupan pada kata-kata itu.
Sadar atau tidak, ada kata yang seharusnya tidak dilontarkan saat sedang emosi atau marah, seperti menyebut orang dengan panggilan hewan dan sebagainya.
Salah satu perbuatan buruk lainnya yang sering dilakukan adalah berbohong. Berapa banyak kebohongan yang dikerjakan?
Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Walaupun berbohong dosa kecil, apabila dilakukan terus-menerus bisa menjadi dosa besar.
Hal lain yang sering dilakukan manusia adalah mengibahi orang lain. Ini adalah perbuatan yang sering terjadi di masyarakat akibat tidak menjaga lisannya.
Ibadah yang Layak
Sementara untuk ibadah, semuanya memiliki parameter keberhasilan, termasuk sholat. Lalu apa tolok ukur berhasil atau tidaknya sholat seseorang?
Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:
"Maka apabila kamu telah menyelesaikan sholatmu, zikirlah, ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk, dan di waktu berbaring." (QS An-Nisa: 103)
Artinya, orang yang sukses atau benar sholatnya, maka akan banyak mengingat Allah. Dia senantiasa terhubung dengan Yang Mahakuasa dalam kondisi apa pun.
Orang yang benar sholatnya bakal merasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa ta'ala (ihsan). Ketika sudah merasa diperhatikan Allah, kecil kemungkinan melakukan maksiat.
Inilah yang melahirkan ciri kedua dari para ahli sholat, yaitu terjauh dari perbuatan keji dan mungkar. (Sesuai QS 29: 45)
Selalu Berhubungan dengan Allah Ta'ala
Dengan selalu mengingat Allah Subhanahu wa ta'ala, bertambah kuatlah imannya. Dikarenakan peningkatan itu, semakin senang ketika beribadah. Akibat senang beribadah, akhlak akan bertambah mulia.
Nikmatnya sholat, ringannya tahajud, hobi membaca Alquran, selalu terjaga wudunya, dzikirnya, Sholat Dhuha-nya, sedekahnya, silaturahminya, dan asyik dengan introspeksi diri.
Sebagai buahnya, terjauh dari maksiat. Bagaimana bisa bermaksiat sedangkan selalu merasa ada Allah Subhanahu wa ta'ala, Dzat Yang Maha-Menatap, Menyaksikan, Mendengar, lagi Memerhatikan segala gerak-gerik.
Oleh karena itu, hadirkanlah mahkamah kesadaran "maiyyatullâh" yaitu bahwa Allah Subhanahu wa ta'ala selalu bersamanya.
Alone but never lonely; sendiri tetapi tidak pernah merasa sendirian.
(Hantoro)