ALLAH SWT sudah menjanjikan bahwa mengabulkan setiap doa yang dimohon oleh hambanya. Itu jelas tertulis dalam Alquran Surah Ghafir Ayat 60, yang artinya “…Berdoalah kamu kepada-Ku, niscaya aku perkenankan permintaanmu.”
Dalam hadist yang diriwayatkan Imam Ahmad, Rasulullah SAW bersabda yang artinya, “Tidak ada seorang muslim pun yang berdoa dengan doa yang tidak mengandung dosa dan memutus hubungan silaturrahim, kecuali Allah akan memberikan kepadanya satu diantara tiga hal : dikabulkan doanya, ditangguhkan hingga hari kiamat, atau dijauhkan dari suatu keburukan atau musibah yang serupa.”
Baca juga: Ini Janji Allah dalam Alquran untuk Orang yang Berdoa
Dosen IAIN Syeh Nurjati Cirebon yang juga penulis buku-buku motivasi Islam, Dr. Didi Junaedi dalam kolomnya seperti dikutip dari jaringansantri.com, Selasa (23/6/2020), menjelaskan tiga cara Allah mengabulkan doa hamba-Nya seperti tertulis dalam hadist di atas yang sering dimaknai oleh para ulama sebagai berikut:
Pertama, yakni doa dikabulkan secara langsung sesuai dengan permintaan. Ini merupakan ‘jalur khusus’ atau keistimewaan yang dimiliki oleh para Nabi dan Rasul.
Hak istimewa ini diberikan Allah kepada mereka, karena para Nabi dan Rasul adalah manusia-manusia ma’shum, yang terjaga dari khilaf dan dosa. Mereka adalah manusia-manusia pilihan yang memiliki kesucian pikiran, hati dan jiwa.
Faktor ‘kesucian’ inilah yang menyebabkan mereka begitu dekat dengan Allah. Sehingga apapun permintaan yang mereka panjatkan kepada-Nya selalu dikabulkan oleh Allah sesuai dengan isi permintaan tersebut. Kita, sebagai manusia biasa, yang tidak terlepas dari dosa dan kesalahan, tidak memiliki hak istimewa ini.
Kedua, jawaban doa ditangguhkan hingga hari kiamat. Ini adalah cara Allah yang diberikan kepada kita, manusia pada umunya.
Mengenai penangguhan jawaban atas doa, ada yang memaknai bahwa jawaban doa kita akan diberikan Allah kelak pada hari kiamat tiba. Tetapi ada juga yang memahami bahwa pada hakikatnya doa kita sudah dijawab oleh Allah.
Tetapi jawaban itu masih ‘digantungkan’ kepada kita. Artinya bahwa jawaban atas doa kita Allah berikan sesuai dengan usaha kita. Misalnya, kita berdoa meminta diberi kelimpahan rezeki, maka sesungguhnya Allah sudah menyediakan kelimpahan rezeki kepada kita. Tergantung bagaimana kita berusaha untuk mencapai serta meraihnya. Tugas kita adalah mengerahkan segala kekuatan, daya serta upaya untuk meraih kelimpahan rizki tersebut. Maka sejauh usaha kita, sejauh itu pula hasil yang akan kita peroleh.
Ketiga, doa diakabulkan tidak sesuai dengan permintaan, tetapi diganti dengan yang lebih baik. Ini juga merupakan cara Allah menjawab doa hamba-Nya, yakni kita manusia pada umumnya.