Lalu, bagaimana cara yang tepat agar iman dapat selalu stabil, tidak turun atau berkurang, dan justru selalu bertambah?
Jika diingat-ingat, tentu ada momen dalam hidup manusia saat hati merasa sedang dekat-dekatnya dengan Allah. Merasa begitu merindukan Allah dan RasulNya, sehingga melaksanakan ibadahpun rasanya nyaman. Bahkan rela untuk bangun sepertiga malam mendirikan sholat malam dan berdoa hingga mampu menitikkan air mata.
Namun sayangnya, momen seperti ini kebanyakan hanya dirasakan ketika suasana hati sedang dirundung masalah. Ketika kita sebagai manusia barulah menyadari akan pentingnya pertolongan Allah dalam berjalannya kehidupan ini. Padahal, kita bisa saja merasakan titik kenyamanan yang sama tanpa harus menunggu datangnya masalah. Bagaimana caranya?
“Caranya adalah duduklah dalam majelis ilmu. Ketika kita mendengar nasihat-nasihat dari para ulama, ayat-ayat dibacakan hadits-hadits disampaikan, cerita-cerita dikisahkan maka pada saat itu kita akan merasakan kelezatan iman yang sama saat kita sedang diuji. Dan perasaan itulah yang bakal menjadi bahan bakar dalam hidup kita untuk bisa melanjutkan perjalanan hidup, menghadapi tantangan hidup. Bahan bakar itu bernama ladzatul iman (kelezatan iman) atau halawatul iman (manisnya iman) di hati kita,” terang dia.
Lebih lanjut Ustadz Hanan Attaki berpesan, jika sekiranya kita selalu rela untuk mengeluarkan budget lebih untuk membeli kuota paket data internet untuk handphone, maka seharusnya budget yang diberikan jauh lebih besar untuk menambah kuota iman.
Begitupun jika kita rela bersusah payah berolahraga untuk menyehatkan tubuh, maka sepatutnya pula kita lebih keras berusaha mencari ilmu dan meningkatkan kualitas iman selama hayat dikandung badan.
"Jika sekiranya kita mampu bersabar menunggu daya baterai handphone terisi, tentu tak seharusnya menjadi suatu hal yang berat untuk kita duduk di majelis ilmu selama beberapa jam hingga keimanan kita akan selalu terisi," tandasnya.
(Rizka Diputra)