MANUSIA diwajibkan memiliki sikap toleransi atau tenggang rasa antarsesama dalam kehidupan bermasyarakat. Apalagi jika hidup di Indonesia dengan ragam budaya, suku, agama. Tentu saja tanpa toleransi penduduknya, maka persatuan bangsa tak akan terwujud.
Indonesia memiliki 17 ribu lebih pulau dengan ribuan suku dan ratusan bahasa menjadikan bangsa ini memiliki perbedaan yang amat banyak. Dalam konteks kebangsaan dan kenegaraan, semua warga Indonesia haruslah bersatu, Bhinneka Tunggal Ika.
Baca juga: Ketum Muhammadiyah: Islam Mengandung Nilai Kemajuan Sepanjang Masa
Islam mengajarkan semua manusia untuk menjadi satu apapun perbedaannya, jangan berpecah belah agar tidak menjadi musuh karena Allah tidak menyukai orang – orang yang berselisih.
Alquran surat al–Hujurat (49) : 13, “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah Menciptakan kamu dari seorang laki–laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa–bangsa dan bersuku–suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.”
Dilansir dari Youtube iNews, Senin (24/8/2020), Kiai Misbahul Munir, Ketua Aswaja Center berdasarkan referensi dari Kitab Tafsir Jalalain menjelaskan, maksud dari ayat di atas bahwa Allah menciptakan manusia dari berbagai suku atau ras agar menjadi satu dengan yang lain serta dapat saling mengenal, bukan untuk saling sombong menyombong.
“Kalau Allah mau, Allah bisa menjadikan manusia satu umat. Tetapi, Allah menjadikan manusia berbeda suku dan bangsa agar saling mengenal. Allah sudah memberi petunjuk yang batil dan haq, untuk urusan esok siapa yang akan masuk surga atau neraka akan Allah putuskan di hari kiamat nanti,” ujarnya.