JAKARTA - Terpisah dari rombongan saat menjalankan ibadah Haji bisa menjadi pengalaman yang menakutkan bagi jemaah. Luasnya Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, jutaan jemaah yang lalu lalang kerap membuat jemaah yang tersasar semakin kehilangan arah.
Jika hal ini terjadi pada Anda, tidak perlu panik. Pasalnya, Pemerintah Indonesia telah menyiagakan ribuan petugas yang tersebar di titik-titik strategis untuk membantu jemaah kembali ke pemondokan dengan aman.
Berikut panduan dari Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) bagi jemaah haji yang terpisah dari rombongannya.
Pada musim haji 2026, sistem pelaporan digital telah diintegrasikan sepenuhnya ke dalam Super App Haji Pintar. Jika Anda membawa ponsel, segera buka aplikasi ini dan gunakan fitur pelaporan darurat. Fitur yang sebelumnya dikenal sebagai "Kawal Haji" kini telah dilebur ke dalam satu pintu utama ini. Dengan menekan tombol laporan, koordinat GPS Anda akan terkirim secara real-time ke pusat komando Kementerian Haji dan Umrah RI. Petugas Satgas Perlindungan Jemaah (Linjam) yang berada di zona terdekat akan segera mendapatkan notifikasi untuk melakukan penjemputan.
Setiap jemaah haji tahun 2026 dibekali dengan Smart Card (Kartu Nusuk) yang wajib dikalungkan setiap saat. Kartu ini bukan sekadar tanda pengenal, melainkan kunci akses data keberadaan Anda. Di dalam kartu tersebut terdapat QR Code terenkripsi yang berisi detail hotel, nomor maktab, hingga kontak ketua rombongan. Jika tersesat dan tidak memegang ponsel, cukup tunjukkan kartu ini kepada petugas resmi. Petugas kementerian dibekali perangkat pemindai khusus yang akan langsung memunculkan rute kembali ke hotel Anda.
Kementerian Haji dan Umrah RI menyiagakan ribuan petugas di titik-titik krusial seperti Terminal Bus Shalawat, jembatan penyeberangan, dan pintu-pintu utama masjid. Petugas resmi dapat dikenali dengan ciri khas:
Jika Anda merasa tersesat, segeralah mendekati petugas dengan ciri-ciri tersebut. Jangan mencoba mengikuti ajakan orang asing yang tidak memiliki atribut resmi kementerian.