Begitu pula ketika Kiai Dahlan bergaul dengan tokoh-tokoh Boedi Oetomo yang memberinya inspirasi mengelola organisasi. Bahkan pernah berbincang dengan tokoh-tokoh yang berpandangan sosialis sekalipun seperti Simaun. Pergaulan Kyai Dahlan yang luas, kata Haedar, memberi karakter kuat pada dirinya. Ia sosok yang mau dan mampu bergaul dengan siapapun dan kelompok manapun.
Baca Juga: Jejak Muhammadiyah Bantu Palestina, Sudah Berlangsung Puluhan Tahun
“Artinya Kiai Dahlan memiliki radius pergaulan yang sangat luas. Dan dari momentum itu Muhammadiyah mampu bersamaan dengan Boedi Oetomo, termasuk dalam menyebarkan majalah Suara Muhammadiyah yang didirikan tahun 1915,” tutur Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini.
Dengan demikian, tegas Haedar, Kiai Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah merupakan sosok yang sejak awal memiliki pemikiran yang cerdas, haus akan ilmu pengetahuan, dan memiliki rujukan yang padat referensi. Dengan segudang kelebihan tersebut, Kiai Dahlan tetap merupakan tokoh pembaharu yang memiliki alam pemikiran yang merdeka.
“Dalam rentang usia yang sebenarnya masih belia, yaitu 55 tahun, tetapi dengan kecerdasannya mampu mempelopori sejumlah pembaharuan pemikiran keislaman dan praktek Islam yang tajdid,” tutur Haedar.
(Vitrianda Hilba Siregar)