Dalam ayat ini, Allah SWT mempertanyakan orang-orang yang menjadikan Nabi Isa AS dan Siti Maryam sebagai tuhan yang disembah, padahal keduanya masih membutuhkan makan. Seseorang yang masih membutuhkan makan tidak bisa dikatakan sebagai sesuatu yang kuat dan hebat.
Oleh karena itu, ketika seorang Muslim menyadari bahwa dirinya masih membutuhkan makam dan minum, maka timbul kesadarang bahwa dirinya tidak pantas berbuat sombong.
Imam al-Mawardi juga mengutip perkataan imam al-Hasan al-Basri: “kasihan sekali anak Adam (manusia). Ajal/kematiannya sudah pasti, harapannya pupus, kekurangannya ditutupi, berbicara dengan daging, melihat dengan lemak, mendengar dengan tulang, lemah ketika rasa lapar, ngantuk ketika kenyang, keringat membuatnya bau, arah timur membunuhnya, tidak dapat mengendalikan dirinya dalam bahaya dan selamat, tidak juga dalam kematian, kehidupan, dan perkembangan tubuh”.
Imam al-Hasan al-Basri menjelaskan bahwa manusia takluk di hadapan makanan. Jika tidak ada makanan, maka dia akan lapar, kemudian lemah. Jika ada makanan berlebih, maka dia akan kenyang, kemudian mengantuk.
Oleh karena itu, puasa Ramadan adalah pola penanaman kesadaran diri untuk menyadari kerendahan diri dan menekan rasa sombong seorang Muslim.
(Amril Amarullah (Okezone))