SUATU hari ayah Abu Nawas, sang penghulu istana, sakit parah dan kritis. Ia pun memanggil putranya itu untuk menghadap. Abu Nawas datang mendapati ayahnya yang sudah lemah lunglai.
"Hai anakku, aku sudah hampir mati. Sekarang ciumlah telinga kanan dan telinga kiriku," kata ayah Abu Nawas, disitat dari nu.or.id.
Baca juga: Bikin Bengong! Abu Nawas Ubah Rumah Sempit Jadi Luas Pakai Domba, Gimana Caranya?
Abu Nawas segera menuruti permintaan terakhir ayahnya. Ia mencium telinga kanan bapaknya, ternyata beraroma harum, sementara telinga sebelah kiri berbau sangat busuk.
"Bagamaina anakku? Sudah kau cium?"
"Benar, ayah!"
"Ceritakan dengan sejujurnya, aroma kedua telingaku ini," ucap ayahanda Abu Nawas.
"Aduh, Yah. Sungguh mengherankan. Telinga ayah yang sebelah kanan harum sekali. Tapi telinga sebelah kiri kok baunya amat busuk?"
"Hai anakku Abu Nawas, tahukah apa sebabnya bisa terjadi begini?" tanya sang ayah.
Baca juga: Aneh! Dibelakangi Abu Nawas, Raja Malah Ketawa Kesenangan, Ada Apa Ya?
Abu Nawas berkata, "Wahai ayahku, cobalah ceritakan kepada anakmu ini."
"Pada suatu hari datang dua orang mengadukan masalahnya kepadaku. Yang seorang aku dengarkan keluhannya. Tapi yang seorang lagi karena aku tidak suka maka tak kudengar pengaduannya. Inilah risiko menjadi qadi (penghulu). Jika kelak kau suka menjadi qadi maka kau akan mengalami hal yang sama. Namun jika kau tidak suka menjadi qadi, maka buatlah alasan yang masuk akal agar kau tidak dipilih sebagai qadi oleh Raja Harun al Rasyid. Tapi tidak bisa tidak Raja Harun al Rasyid pastilah tetap memilihmu sebagai Qadi."