Tanpa mengerti kejadian sebelumnya, Abu Jahal mulai berpikir, alangkah gembiranya jika bisa melakukan hal serupa. Abu Jahal mengetahui bahwa kaum sufi rata-rata punya kekuatan tertentu. Ia pun menyimpulkan hanya perlu memukul mereka untuk mendapatkan emas.
Maka terbesitlah di benak Abu Jahal sebuah ide konyol. Dia mengadakan sebuah jamuan pesta makan yang hanya dihadiri para sufi.
Ketika para sufi ini sudah makan kenyang, Abu Jahal diam-diam mengeluarkan tongkat dan tanpa ampun dihantamnya para tamu undangan sampai tersungkur ke tanah.
"Kenapa tidak ada yang berubah menjadi emas?" batin Abu Jahal.
Dikarenakan masih penasaran, Abu Jahal kembali memukuli mereka dengan tongkat. Tentu saja perbuatan ini membuat para sufi ketakutan. Mereka serempak kabur berlarian meninggalkan rumah Abu Jahal.
Akibat perbuatan tersebut, para sufi mengadukan Abu Jahal kepada Tuan Hakim. Setelah itu ditangkaplah Abu Jahal dan disidangkan.
Di hadapan Tuhan Hakim, Abu Jahal beralasan bahwa perbuatannya ini semata-mata ingin meniru Abdul Malik. Pasalnya, dia pernah melihat Abdul Malik memukul seorang sufi dan seketika itu juga orang yang dipukul berubah menjadi emas.
Mendengar pengakuan Abu Jahal yang tidak masuk akal, Tuan Hakim kembali bertanya, "Apa kau yakin dengan yang kau lihat Abu Jahal?"
"Hamba yakin sekali Tuan Hakim. Kalau tidak percaya, panggil saja Abdul Malik kemari," jawab Abu Jahal.