Perang Ini Malah Jadi Bukti Toleransi Umat Beragama di NTB, Kok Bisa?

Kiki Oktaliani, Jurnalis
Selasa 18 April 2023 12:38 WIB
Perang topat di NTB. (foto: dispudpar.ntbprov.go.id)
Share :

PERANG biasanya identik dengan konflik antara dua kelompok, yang bertikai. Berbeda dengan artian perang tersebut, tradisi perang Topat justru penuh dengan toleransi.

Perang Topat, berlangsung di kecamatan Lingsar Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Perang ini telah mentradisi ke masyarakat sejak lama. Tradisi perang topat menjadi simbol keharmonisan, dan toleransi umat beragama yang ada di Lingsar.

 BACA JUGA:

Dalam tradisi ini dilakukan oleh dua umat agama berbeda yaitu Hindu dan Islam. meskipun memiliki paham yang berbeda, hal ini mampu membangun kebersamaan melalui upacara perang topat.

 

Perang topat diadakan sebagai ungkapan syukur dari melimpahnya air, berbagai hasil pertanian, serta suka cita terciptanya kedamaian yang ada di masyarakat.

 BACA JUGA:

Dalam perang topat, senjata yang digunakan untuk berperang adalah topat atau ketupat. Dengan cara saling melempar ketupat dengan niat melempar setan untuk menghilangkan kemurkaan, kedengkian, amarah dan sifat-sifat buruk manusia.

Perang Topat digelar Pada malam Purnama itu, umat Hindu merayakan Odalan atau ulang tahun Pura Lingsar dengan melaksanakan upacara Pujawali dengan Mendak Bhatara Gunung Agung dan Gunung Rinjani.

Sedangkan Umat Islam melaksanakan dzikir dan napak tilas memperingati jasa Raden Mas Sumilir, seorang penyiar agama Islam dari Demak Jawa Tengah yang menyiarkan Islam di Lombok pada abad ke 16.

Ketupat yang sudah dipakai untuk perang, dibawa pulang oleh masyarakat khususnya petani. Dengan hal tersebut, diyakini dapat dipergunakan sebagai bubus untuk dijadikan pupuk yang ditaburkan di sawah dan kebun pada saat malam hari seraya mohon doa pada Yang Maha Kuasa untuk mendapatkan kesuburan bumi dan hasil pertanian yang semakin melimpah.

Dalam penyelenggaraan tradisi perang topat, masyarakat ummat Hindu Dan warga suku Sasak dipelataran pura dan umat muslim di Kemalik Lingsar saling bergotong-royong untuk mempersiapkan jalannya tradisi perang topat, seperti memasang Abah-Abah atau memasang perlengkapan upacara.

(Vivin Lizetha)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya