JEDDAH - Tim kesehatan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) tengah menggalakkan kampanye pencegahan penularan pneumonia atau radang baru kepada jamaah haji Indonesia. Selain melakukan pengobatan tim kesehatan juga memberikan tips agar tidak tertular dan menularkan penyakit tersebut.
Peningkatan kasus pneumonia terjadi setelah jamaah haji menjalani fase puncak haji atau disebut Armuzna (Arafah, Muzdalifah dan Mina). Penyakit tersebut ditandai dengan batuk dan pilek. Pada kasus tertentu, seperti lansia, mereka yang terpapar pneumonia menjadi tidak nafsu makan.
BACA JUGA:
Kabid Kesehatan PPIH Arab Saudi Muhammad Imran mengatakan pihaknya kini menggencarkan edukasi pada jamaah sebagi bentuk tindakan preventif seperti; selalu pakai masker saat beraktivitas di dalam atau luar hotel termasuk di kerumunan, mengurangi kontak fisik dengan cara tidak usah jabat tangan dulu setelah shalat dan mencuci tangan dengan sabun, serta menerapkan etika batuk dengan menutup mulut dengan lengan atas.
Selain itu, jamaah haji harus tetap istirahat yang cukup. Sedangkan khusus jamaah lansia, Imran mengatakan agar tercukupi asupan makannya. Karena itu, tim kesehatan mensuplai susu untuk jemaah haji lansia.
"Pesan pesan ini kita kuatkan lagi, karena pneumonia berkontribusi jadi penyebab kematian paska armuzna. Tingkat infeksi ini menyerang beberarapa bagian organ tubuh. Dan setelah Armuzna peningkatan jumlah jemaah meningkat karena oenumonia," kata Imran kepada Media Center Haji (MCH) 2023, di Makkah (10/7/2023).
Menurut Imran, kasus radang paru pasca-Armuzna, tidak bisa dibilang kejadian biasa, tapi belum masuk kategori darurat pneumonia belum. Hanya saja, lanjut Imran, edukasi kepada jamaah melalui ketua kloter, pendistribusian obat ke tenaga kesehatan (tkh) kloter sehingga jangan sampai terjadi kekurangan antibiotik, oksigen.
Ditambahkan Imran, jamaah juga harus waspada terhadap cuaca panas yang bisa membuat jamaah mengalami penurunan daya tahan tubuh.