JAKARTA - Melakukan pendakian ke gua hira adalah sebuah perjalanan untuk melihat salah satu tempat paling bersejarah dalam perjalanan agama Islam.
Di tempat ini, wahyu pertama diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikan Jibril di gua hira.
Ribuan jamaah, termasuk dari Indonesia yang datang ke Makkah pasti memiliki keinginan untuk bisa mendaki ke atas gunung dan melihat langsung tempat turunnya surat Al Alaq ayat 1-5 tersebut.
Sayang, keinginan mulia tersebut tidak diimbangi dengan kesadaran untuk menjaga lingkungan di gunung yang berada di Hejaz, Arab Saudi itu.
Hampir di sepanjang pendakian akan terlihat sampah bekas air mineral berserakan. Jumlahnya banyak bahkan sangat banyak, terlihat di setiap lereng sesuai jumlah jamaah yang naik turun ke gunung dengan ketinggian sekitar 640 meter tersebut.
Memang ada petugas kebersihan yang siap, tapi tidak sebanding dengan jumlah bekas air mineral yang dibuang sembarangan oleh jamaah.
Selain sampah, paling parah adalah tindakan tangan tangan tidak bertanggung jawab melakukan aksi vandalisme. Mencoret-coret batu-batu di Jabal Nur dengan spidol bahkan alat semprot di permukaan batu yang telah berusia puluhan bahkan mungkin ratusan tahun tersebut dengan tulisan yang menandakan egoisme mereka.
Tulisan yang justru menjadi penanda betapa mereka tidak mengetahui bahwa gunung tersebut diciptakan untuk "rumah" Nabi saat menerima wahyu. Dari pelaku pelaku vandalisme tersebut, ada tangan orang Indonesia.
"Sepanjang perjalanan menuju gua hira bahkan, di gua hira nya ini adalah sesuatu yang tentu buruk, dan bahkan sebagian dilakukan orang indonesia," kata Habib Husein Ja'far yang ikut naik ke Jabal Nur.