Dari hadits tersebut, kata Ustadz Sofyan Ruray, ada beberapa pelajaran yang dapat diambil, yakni:
1. Ketenangan hati yang terkait dengan apa yang dimiliki didapatkan dari dua hal: (1) Cara pandang yang benar, contoh terkait harta, lihatlah orang yang lebih rendah daripada kita; (2) Bersifat qanaah atas bersyukur, ridho terhadap pembagian Allah 'Azza wa Jalla.
2. Agar lebih qanaah dalam perkara dunia, lihatlah orang yang lebih rendah daripada diri sendiri, agar makin menyadari betapa besarnya nikmat yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebab betapa pun sedikit yang dimiliki, ada orang lain yang lebih sedikit. Sakit apa pun yang menimpa, ada orang lain yang lebih menderita.
3. Adapun dalam perkara agama, maka lihatlah orang yang lebih baik daripada diri sendiri, dan berusahalah meneladani serta berlomba dalam kebaikan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Pada yang demikian itu (nikmat akhirat) hendaklah para hamba berlomba-lomba." (QS Al Muthafifin: 26)
Maka sebagai manusia, bersyukur dan qanaah merasa cukup dengan apa yang Allah Subhanahu wa Ta'ala beri adalah sebuah kenikmatan.
Wallahu a'lam bisshawab.
(Hantoro)