JEDDAH – Jika Indonesia memiliki kereta cepat Whoosh, Arab Saudi lebih dahulu menghadirkan Haramain. Moda transportasi yang dikenal sebagai “jet darat” dan dikelola Saudi Arabia Railways (SAR) ini berperan penting dalam mendukung kelancaran ibadah haji.
Menyambut musim haji tahun ini, Haramain High Speed Railway (HHR) meningkatkan kapasitas kursinya menjadi 2,2 juta kursi. Jumlah tersebut naik sekitar 11 persen atau lebih dari 210.000 kursi dibandingkan tahun sebelumnya.
“Sejak dimulainya operasional musim Haji 1447 Hijriah layanan ini telah mengangkut lebih dari 800.000 penumpang,” kata Khaled di Stasiun Bandara Internasional King Abdulaziz, Sabtu (23/5/2026).
Berdasarkan data SAR, operasional transportasi haji di jalur ini dimulai pada 5 Mei, dengan perjalanan perdana dari Stasiun Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah menuju Makkah. Layanan tersebut sekaligus menandai dimulainya operasional kereta untuk musim haji tahun ini.
Pantauan di lokasi menunjukkan aktivitas yang padat di stasiun tersebut. Fasilitas stasiun terhubung langsung dengan bandara, sehingga memudahkan penumpang yang baru tiba dari pesawat untuk langsung melanjutkan perjalanan menggunakan Haramain.
“Mengesankan. Ini dapat menjadi pilihan bagi mereka yang membutuhkan waktu cepat untuk sampai Makkah atau Madinah,” ucap Zulkarnain, jamaah calon haji asal Islamabad, Pakistan.
Dioperasikan sejak Oktober 2018, interior kereta Haramain masih tampak terawat meski tidak lagi baru. Kursi berwarna cokelat menjadi ciri khas di dalamnya. Sayangnya, kesempatan untuk mencoba langsung perjalanan kereta cepat tersebut tidak tersedia dalam kunjungan ini.
Okezone bersama sejumlah jurnalis dari berbagai negara yang diundang Kementerian Media Arab Saudi hanya melihat operasional sistem kereta serta perannya dalam mendukung kelancaran ibadah haji tahun ini.
Kereta cepat Haramain menggunakan rangkaian Talgo 350 SRO buatan Spanyol. Di negara asalnya, kereta ini dijuluki “Pato” atau bebek karena bentuk moncongnya yang khas. Haramain mampu melaju hingga 300 km/jam di jalur sepanjang 453 km yang menghubungkan Makkah dan Madinah.
“Perjalanan antara Makkah dan Madinah ditempuh sekitar dua jam, sangat efisien dibandingkan mengendarai mobil atau bus yang memakan waktu sekitar 4 sampai 5 jam,” ujar Khaled.
Secara keseluruhan terdapat lima stasiun di sepanjang koridor dua kota suci tersebut, yakni Makkah, Jeddah (Al Sulaymaniyah), Bandara Internasional King Abdulaziz, Kota Ekonomi King Abdullah (Rabigh), dan Madinah. Stasiun bandara sendiri mulai beroperasi pada 2019.
Menurut Khaled, peningkatan kapasitas pada musim haji ini sejalan dengan Strategi Transportasi dan Logistik Nasional Arab Saudi. Langkah ini juga mendukung visi Saudi Vision 2030 untuk meningkatkan mobilitas serta kualitas layanan bagi para jamaah haji.
(Arief Setyadi )