Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Namun, para ulama juga mengingatkan bahwa kejujuran harus ditempatkan dengan kebijaksanaan. Dalam keterangan Syekh Rasyid Ahmad al-Kankuhi, kejujuran diperintahkan selama tidak menyebabkan hilangnya hak orang lain, tertumpahnya darah, atau bahaya yang lebih besar.
Jujur bukan berarti membuka aib orang di depan umum. Jujur bukan berarti berbicara tanpa adab. Jujur bukan berarti menyampaikan semua hal dengan cara yang menyakiti. Kejujuran harus berjalan bersama hikmah, amanah, dan kasih sayang.
Kalau ada orang bertanya tentang aib orang lain yang tidak perlu dibuka, maka diam bisa lebih baik. Kalau ada konflik, lalu ucapan yang terlalu terbuka justru menimbulkan kerusakan yang lebih besar, maka diperlukan kebijaksanaan. Islam tidak memisahkan kejujuran dari akhlak.
Karena itu, kejujuran yang diajarkan Rasulullah adalah kejujuran yang membawa kebaikan, bukan kejujuran yang dipakai untuk menghina, merendahkan, atau merusak.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Orang yang jujur mungkin tidak selalu menang cepat. Tetapi orang yang jujur sedang berjalan menuju ridha Allah. Dan apa artinya kita menang di mata manusia, tetapi jatuh di hadapan Allah? Apa artinya kita terlihat hebat di dunia, tetapi dicatat sebagai pendusta di sisi Allah?
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang jujur dalam ucapan, ikhlas dalam amal, bersih dalam hati, dan istiqamah dalam kebaikan.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ