Apa Hukum Percaya Mitos dan Ramalan?

Muhammad Fadhil Mubarok, Jurnalis
Minggu 11 Oktober 2026 13:49 WIB
Ilustrasi. (Foto: Unsplash)
Share :

JAKARTA — Mempercayai mitos dan ramalan dalam ajaran Islam hukumnya secara tegas adalah haram. Perbuatan ini rawan menjerumuskan seorang muslim ke dalam dosa besar (syirik) karena mempercayai adanya pihak selain Allah SWT yang mengetahui perkara gaib.

Dalam akidah Islam, pengetahuan tentang hal gaib merupakan hak mutlak Allah SWT. Tidak ada seorang pun makhluk yang mengetahuinya, kecuali para rasul yang dikehendaki-Nya.

Prof. Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqar dalam bukunya, Pengantar Studi Aqidah Islam, menjelaskan bahwa mempercayai ramalan atau mendatangi peramal tergolong perbuatan yang merusak akidah. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur'an Surah Al-Jin ayat 26–27:

عٰلِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلٰى غَيْبِهٖٓ اَحَدًاۙ ٢٦ اِلَّا مَنِ ارْتَضٰى مِنْ رَّسُوْلٍ فَاِنَّهٗ يَسْلُكُ مِنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ رَصَدًاۙ ٢٧   

Artinya: "Dia mengetahui yang gaib. Lalu, Dia tidak memperlihatkan yang gaib itu kepada siapa pun, kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya. Sesungguhnya Dia menempatkan penjaga-penjaga (malaikat) di depan dan di belakangnya."   

Mendatangi peramal atau sekadar membaca ramalan—meskipun tanpa memercayainya—tetap diharamkan karena dapat membuka pintu kesesatan. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

Artinya: "Barang siapa mendatangi tukang ramal lalu menanyakan sesuatu kepadanya, maka salatnya selama 40 malam tidak diterima." (HR. Muslim no. 2230).

Bahkan, jika seseorang membenarkan perkataan peramal tersebut, tingkat pelanggarannya dapat menggugurkan keimanan:

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

Artinya: "Barang siapa mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkan apa yang dikatakannya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad." (HR. Ahmad no. 9532).

 

Bahaya Perbuatan Syirik

Dikutip dari buku Dosa-Dosa Besar karya Mutawalli Sya'rawi, syirik merupakan dosa paling besar dalam Islam. Mempercayai ramalan sama saja dengan menduakan Allah SWT dan menyerahkan takdir kepada selain-Nya. Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 116:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًۢا بَعِيدًا   

Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya."   

Bagaimana Jika Ramalan Terbukti Benar?

Anggapan bahwa ramalan kadang-kadang terbukti benar sejatinya hanyalah bentuk talbis (penyesatan atau pemalsuan). Para peramal umumnya menggunakan kalimat yang bersifat umum dan multitafsir agar mudah dicocokkan saat suatu peristiwa terjadi.

Selain itu, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa kebenaran yang sesekali keluar dari mulut peramal merupakan bisikan kabar dari langit yang dicuri oleh jin, lalu dicampur dengan ratusan kebohongan. Oleh karena itu, ramalan tetap tidak memiliki landasan kebenaran hakiki.

Islam mengajarkan umatnya untuk menghadapi masa depan dengan ikhtiar, doa, dan tawakal kepada Allah SWT. Segala ketentuan rezeki, jodoh, musibah, hingga ajal berada penuh di tangan Allah SWT. Wallahu a'lam.

(Rahman Asmardika)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya