MALANG - Melangkah pelan, serombongan keluarga menyusuri jalan setapak yang terbuat dari batako. Wajah mereka tak henti-hentinya menoleh kiri dan kanan sambil mengangguk kagum atas desain dan bangunan masjid yang berdiri di tengah pedesaan Sanan, Kecamatan Turen, Malang, Jawa Timur.
Cerita dari mulut ke mulut pun beredar, orang kebanyakan bilang masjid megah dengan 10 lantai itu dibangun oleh jin, ada juga mitos lain mengiring keberadaan Masjid Tiban atau masjid yang muncul dengan tiba-tiba itu.
Namun, semua cerita tersebut dibantah pengurus masjid. Bangunan masjid menyatu dengan lingkungan Pondok Pesantren Salafiah Bihaaru Bahri Asali Fadlaailir Rahmah (Bi Ba’a Fadlrah), atau yang bermakna Laut Madu. Masjid dibangun di atas lahan seluas 5,5 hektare dengan tinggi 10 lantai.
“Bangunan di sini dibangun para santri berdasarkan petunjuk istikharah Romo Kiai Ahmad almarhum,” ujar Ahmad Nazilul Kirom, salah seorang santri bagian informasi di lingkungan pondok.
Menurutnya, bangunan utama memiliki 10 lantai, lantai 1 digunakan untuk ibadah; lantai 2 hingga lantai 5 merupakan tempat kegiatan pondok; lantai 6 ruangan keluarga para santri; lantai 7 dan 8 berisi kios busana, makanan, dan oleh-oleh yang dijual para santri.
“Semua bangunan tersebut dibangun sejak 1978 dan hingga 34 tahun ini belum separuh bangunan terselesaikan,” sambung Nazilul.
Pembangunan dilakukan para santri yang menetap dan para jamaah pengajian. Pendanaannya, kata Nazilul, dari sumbangan pribadi pengasuh yang seorang petani.
“Prinsipnya tidak boleh meminta, tidak boleh pinjam, dan berharap sumbangan dari orang lain,” ujarnya.
Desain dan arsitektur bangunan berdasarkan petunjuk dari pengasuh setelah melakukan salat Istikharah. Banyak yang tidak memercayainya, sehingga rombongan keluarga yang datang ke lokasi ini selalu bertanya-tanya kepada petugas di bagian informasi, benarkah bangunan tersebut dibangun para santri atau dari mana dananya berasal. Namun oleh pengurus masjid dijawab dengan sabar dan rasional.
Banyak mantan preman, bandar narkoba, bahkan orang nonmuslim setelah berkunjung ke masjid ini menjadi terbuka hatinya akan kebesaran Sang Khalik.
“Saya sendiri pernah keluar penjara dan alhamdulillah setelah dikenalkan teman saya dan masuk sini menemukan kebahagiaan sesungguhnya,” ungkap pria asal Bungurasih yang pernah menjadi bandar narkoba itu.
Dia melanjutkan, ada beberapa nonmuslim, setelah masuk lingkungan masjid dan pondok pesantren, terbuka hatinya dan memeluk Islam. Mereka pun menjadi santri di sana. Saat ini, ada 280 santri di pondok tersebut. Dari jumlah itu ada 49 kepala keluarga dan cucu mereka.
Pelajaran di pondok lebih banyak belajar Tasawuf dengan mengkaji Kitab Al Hikam.
Pondok pesantren ini juga terbuka untuk semua agama dan orang yang bagaimanapun latar belakangnya bisa belajar agama di sana.
Menuju ke sana, kalau dari arah Kota Malang berjarak sekira 30 kilometer. Dari terminal Gadang bisa naik mini bus ke Kecamatan Turen dan turun di pertigaan Sedayu. Dari situ bisa berjalan kaki atau naik ojek ke lokasi yang hanya berjarak sekira 1,5 kilometer.
(Anton Suhartono)