JAKARTA - Berdirinya Kakbah dan Masjidil Haram tidak lepas dari sejarah perkembangan agama Islam di Tanah Suci Makkah. Faktanya, penampilan Kakbah terus mengalami perubahan dari masa ke masa. Dari yang semula bangunan berbentuk kotak di tengah gurun pasir, kini menjadi bangunan megah disertai Hajar Aswad di tengah Masjidil Haram.
Secara bahasa, Kakbah adalah Baitul Murabba’, yakni bangunan persegi empat, atau al-‘Uluwal-Murtafi’ah, bangunan yang muncul ke permukaan tanah, atau bermakna al-Ghurfah, artinya kamar-kamar, adalah bangunan yang mempunyai ruang segi empat dan pintunya yang tinggi, terletak di tengah bangunan Masjidil Haram.
Dijelaskan dari buku 'Haji dan Umrah Mabrur Itu Mudah dan Indah' karya Dr Muhammad Syafii Antonio, M.Ec, Kakbah merupakan bangunan tertua di dunia yang berada di tengah-tengah Masjidil Haram. Dalam Al-Quran, Allah SWT menyebutkan bahwa Kakbah adalah rumah yang mula-mula didirikan sebagai tempat beribadah manusia.
“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. Ali Imran [3]: 96).
Kakbah dibangun sejak Nabi Adam AS. Bangunan ini berkali-kali mengalami renovasi, di antaranya pada masa Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, di zaman jahiliyah oleh suku Quraisy, pada masa Abdullah bin Zubair bin Awam (65 H), Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-tsaqafi (74 H), Sultan Murad Khanal-Utsmani (1040 H), dan di masa Raja Fahd ibn Abdul Aziz (1417 H).

(Alat pemintal Kiswah di Museum Museum Imarat Al-Haramain Asy-Syarifain. Dok: MCH)
Di Masa Nabi Ibrahim
Pembangunan Kakbah pada zaman Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS diabadikan oleh Allah SWT dalam Al-Quran, yang artinya:
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggalkan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo’a), ‘Ya Tuhan kami terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkau lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al –Baqarah[2]: 127).
“Kemudian Ibrahim berkata, ‘Wahai Ismail, sesungguhnya Allah menyuruhku dengan suat perkara. Ismail berkata, ‘Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan Tuhanmu (‘azzawajjall)’. Ibrahim berkata, ‘Maukah kau membantuku?’. Ismail menjawab, ‘Aku akan membantumu’. Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya Allah memerintahkanku membangun di sini suatu rumah (Bait) – sembari memberi isyarat kepada suatu gundukan tanah yang tinggi melebihi sekitarnya. Ibn Abbas berkata, ‘Maka di sanalah mereka berdua meninggikan (membangun) dasar-dasar Baitullah. Kemudian mulailah Ismail mendatangkan batu-batu, sedangkan Ibrahim membangunnya sehingga ketika bangunan mulai tinggi, ia datang dengan batu ini (Maqam Ibrahim), dan meletakkannya untuk Ibrahim. Lalu Ibrahim pun berdiri di atasnya dan membangun (Kakbah ), sedangkan Ismail menyodorkannya batu-batu dan mereka berdua berkata, ‘(Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengarkan lagi Maha Mengetahui)’. Ibn Abbas berkata, ‘Jadilah mereka berdua membangun (Kakbah ) hingga di sekeliling bait, dengan mengucap, ‘(Ya Tuhan kami terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (HR Bukhari, No. 3365).
Kakbah yang dibangun kembali kedua nabi dan hamba Allah SWT ini berbahan batu, tingginya 9 hasta (4,5 meter), panjangnya dari arah timur 32 hasta (16 meter), dari arah barat 31 hasta (15,5 meter), dari arah utara 20 hasta (10 meter), dan dari arah selatan 22 hasta (11 meter). Nabi Ibrahim AS tidak membuat atap Kakbah, membuat pintu masuk yang sejajar dengan tanah tapi tidak membuat daun pintunya.

(Ornamen Kakbah era 1420 H di Museum Museum Imarat Al-Haramain Asy-Syarifain. Dok: MCH)
Di Zaman Quraisy
Enam tahun sebelum Muhammad SAW menerima wahyu dari Allah SWT yang menandai diutusnya sebagai nabi dan rasul, terjadilah banjir yang sangat besar di kota Makkah. Akibatnya, bangunan Kakbah mengalami kerusakan.
Para pemuka Quraisy mengumumkan kepada penduduk kota Makkah untuk merenovasi Kakbah . Mereka mengurangi bangunan dari arah Hijir Ismail hingga 6 hasta (3 meter lebih) dan menambah tinggi bangunan 19 hasta (9 meter). Bangunan Kakbah yang sebelumnya tidak beratap menjadi beratap, membuat pancuran air dari bahan kayu, menutup pintu arah barat, serta meninggikan pintu timur dari dasar Kakbah. .
Ketika Hajar Aswad akan diletakkan kembali di tempat semula, para pemuka Quraisy berselisih tentang siapa yang layak melakukannya. Bagi mereka, orang yang meletakkan Hajar Aswad adalah orang yang mendapat kemuliaan. Setelah cukup lama berselisih perihal siapa yang pantas meletakkan Hajar Aswad, akhirnya diputuskan orang yang pertama masuk Masjidil Haram, dialah yang berhak meletakkannya. Ternyata Muhammad SAW orangnya.
Nabi Muhammad SAW berkata kepada orang-orang, “Berikan padaku sebuah kain”. Setelah kain diterimanya, beliau menghamparkannya lalu mengambil Hajar Aswad dan menaruhnya di tengah kain itu dengan tangannya.
Lelaki yang sebelumnya telah dijuluki “Al-Amin” (Orang yang terpercaya) oleh kaum itu mengatakan, “Hendaklah setiap kabilah memegang sisi-sisi kain ini, kemudian angkatlah bersama-sama!”.
Mereka melakukannya. Tatkala telah sampai di tempatnya, Nabi Muhammad SAW menaruh Hajar Aswad itu dengan tangannya lalu pembangun Kakbah diselesaikan. Berkat dicerdikan beliau, perselisihan yang sebelumnya sempat memanas dan berpotensi memicu pertumpahan darah itu akhirnya dapat diselesaikan dengan baik. Semua pemuka kabilah Quraisy merasa puas.

(Kakbah saat musim Haji. Dok: MCH)