MEDAN — Ditemui di Aula Jabal Nur Embarkasi Asrama Haji Medan, Sumatera Utara. Muhammad Aidil (23) sudah terlihat menggunakan ihram. Sosok pemuda ini beserta jamaah pria lainnya yang masuk gelombang II memang sudah dianjurkan menggunakan dua potong kain berwarna putih tersebut sejak dari Embarkasi.
Aidil bersama tiga anggota keluarga lainnya, termasuk sang ibu, ayah, dan kakaknya, akan berangkat menunaikan Rukun Islam yang kelima di Tanah Suci. Dia dan keluarganya tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 12 (MES-12) asal Embarkasi Medan.
Pemuda ini selalu menundukkan pandangan saat berpapasan dengan wanita yang bukan mahramnya. Tampaknya Aidil berusaha menjaga amal salihnya.
Tergabung dengan 70 persen jamaah risiko tinggi (risti) dalam kloternya, tidak membuat Aidil merasa minder, karena usianya yang masih muda. Dia memang menjadi jamaah termuda di kloternya.

Tidak banyak cerita yang bisa dibagi kepada kami, sebab Aidil beserta jamaah haji lainnya harus segera masuk ke bus usai acara pelepasan. Tapi, pemuda ini memberikan motivasi dan semangat kepada para kaum muda untuk dapat melaksanakan ibadah haji selagi mampu.
"Bagi saya, usia seseorang bukan menjadi penghalang untuk melaksanakan ibadah haji. Memang tidak semua orang bisa melaksanakan ibadah haji. Selagi muda banyak faktor yang membuat orang belum melaksanakan haji. Alhamdulillah saya diberikan Allah kemudahan. Keluarga mendaftar bersama dan tahun ini kami bisa bersama-sama berangkat," ujar pemuda yang berstatus mahasiswa fakultas psikologi ini, seperti Okezone kutip dari Kemenag.go.id, Selasa (7/8/2018).
Menurut Aidil, berhaji itu harus ditentukan dari kemantapan hati, biaya, dan lain sebagainya. Dirinya berharap kaum muda dapat memahami esensi dari berhaji. Kalau sudah paham, pasti dimudahkan.
"Yang pertama berhaji dari segi kemantapan hati, biaya, dan lain sebagainya tapi saya berharap sedini mungkin teman-teman dapat memahami apa itu haji, esensi dari berhaji itu apa. Ketika kita sudah mengetahuinya, insya Allah dimudahkan Allah," kata mahasiswa yang sedang menyusun skripsinya ini.

Aidil juga mengatakan bahwa banyak keuntungan berhaji di usia muda. Selain fisik masih prima, dirinya juga berharap ketika kembali ke Tanah Air dapat memberikan dampak positif kepada teman-temannya, memberikan perubahan. Walaupun yakin ketika kembali coba menyerukan kebaikan akan banyak tantangan yang dihadapi.
Dirinya juga tidak mau setelah pulang dari Tanah Suci berbangga dengan titel "haji", sama dengan yang mengaku Islam tapi hanya sebatas identitas saja. Dirinya berharap setelah kembali ke Indonesia mampu membawa nilai-nilai keislaman, baik untuk pribadi maupun yang bersentuhan dengan masyarakat.
"Begitupun haji di usia muda ini tentu saya berharap bisa membagi pengalaman spiritual saya kepada teman-teman, membawa perubahan (baper) secara pribadi dan lingkungan, mohon doanya," jelas bungsu dari tiga bersaudara ini.
Aidil pun pamit kembali bersama rombongannya dan segera terbang untuk memenuhi panggilan Allah Subhanahu wa ta’ala. Semoga menjadi haji mabrur dan bisa membawa perubahan.
(Hantoro)