“Ada informasi yang terakhir. Sendainya ada jemaah yang kita rujuk, maka ada riwayat penyakitnya. Jadi kita sinkronkan dengan alasan kita merujuk. Kita juga bisa mengetahui dalam 1 hari itu berapa jamaah yang kita rawat. Demikian pula dengan KKJH (Kartu Kesehatan Jemaah Haji). Data yang ada di dalamnya akurat dan mudah diakses,” jelas Said.
Kapuskes Haji menyatakan bahwa KKJH Elektronik ini mudah diakses oleh TKHI. “Kartu Kesehatan Haji Elektronik bisa diakses dengan mudah oleh TKHI. Tidak pernah ada complained dari TKHI,” jekas Eka.
Amira, dokter TKHI yang bertugas di JKG 26 pernah memiliki pengalaman tentang KKJH saat merujuk pasien di RSAS Mina Al Wadi. Saat itu ada pasien yang bukan jamaahnya sedang dirawat. Dokter RSAS Mina Al Wadi menanyakan riwayat penyakit pasien tersebut.
"Meski pasien itu bukan jamaah saya, tapi saya bisa mengetahui riwayat penyakitnya dari KKJH pasien. Dokter spesialis tersebut sangat kagum melihatnya karena kita bisa langsung tahu riwayat penyakit dari jemaah haji, apakah ada DM, hipertensi, dan lain-lainnya dengan satu kali klik scan barcode, data muncul semua. Mereka sangat apresiasi," kata Amira.
Menurut Amira, KKJH bagi jemaah haji dapat digunakan sebagai identitas yang kemana-mana harus dikalungkan oleh jemaah haji itu sendiri. "Dengan KKJH, bila kita menemukan jamaah yang tersesat pun bisa segera tahu namanya dan dari mana kloternya. Kemudian kita share di grup, agar jemaah tersesat tersebut dapat dijemput," tambahnya.