nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bulan Puasa Memerlukan Perjuangan, Kesabaran dan Kepedulian

Minggu 12 Mei 2019 20:16 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 05 12 614 2054767 bulan-puasa-memerlukan-perjuangan-kesabaran-dan-kepedulian-uB7KXgJFQn.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

PENGAJIAN Al-Ikhlas yaitu kelompok pengajian komunitas Indonesia di Stockholm bekerja sama dengan KBRI Stockholm telah mengadakan acara buka puasa bersama. Kegiatan ini diisi pula dengan mendengarkan tausiyah dari Dr. Kun Mahardi.

Intisari yang disampaikan pada ceramah Dr. Kun Mahardi adalah perlunya berbuat baik kepada sesama manusia. Di pulan puasa yang merupakan bulan penuh dengan perjuangan, kesabaran dan berkah, puasa menghendaki setiap orang untuk peduli kepada sesama.

Puasa berarti adalah toleransi kepada orang yang tidak punya. Menahan lapar sebagai solidaritas kepada golongan yang tidak berkecukupan. "Allah Subhanawata’ala telah menunjukkan hal yang hakiki," kata Ustad Kun Mahardi.

Baca Juga: Asal Muasal Mitos Suku Sunda Dilarang Menikah dengan Suku Jawa dan Sebaliknya


Disebutkan lebih lanjut bahwa bulan suci ini adalah kesempatan untuk bermunajat dan memberikan sedekah kepada sesama manusia.

Menurut Ustad yang telah menetap 9 tahun di Denmark tersebut menyatakan bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa akan memberikan apa yang kita perlukan. "Bukan memberikan yang kita mau. Karena manusia itu tidak pernah puas untuk menerima rezeki atau nikmat," tambah Kun Marhadi.

Yang kita perlukan adalah yang pasti bermanfaat bagi yang bersangkutan dan manusia lainnya. Godaan untuk menahan diri itu diperlukan di semua kehidupan negara dan masyarakat.

"Bergunjing, berbohong, mengumpat, marah dan buruk sangka adalah sumber dari kehancuran dan bertentangan dengan spirit Ramadhan," jelas Kun Marhadi.

Baca Juga: Mau Kaya Setelah Menikah? Cari Pasangan dari 3 Suku Ini


Lebih jauh disebutkan bahwa yang dikehendaki ajaran Kitab Suci kita adalah sifat sabar (hilm), rendah hati (tawadu), pemurah dan ahlak yang baik. Tidak saja warga negara Indonesia dan Swedia yang hadir. Terlihat WN India, Pakistan, Bangladesh, Mesir juga mengikuti acara buka bersama.

Pada acara buka puasa bersama ini, Dubes Bagas Hapsoro juga mengucapkan penghargaan atas kedatangan para hadirin dan penceramah. Juga diucapkan terima kasih kepada para hadirin atas segala bantuan yang ditunjukkan baik berupa makanan, bantuan tenaga maupun pengaturan acara tersebut. "Hal demikian sangatlah berarti bagi kita. Semoga apa yang sudah diberikan kepada kami itu dicatat amal baik dan mendapatkan imbalan dari Allah SWT," kata Bagas.

Jika dibandingkan Indonesia, durasi berpuasa di Swedia untuk tahun ini hanya lebih lama tiga jam. Misalnya di Indonesia waktu berbuka sekitar pukul 18.00, maka di Swedia waktu berbuka pukul 21.00.

Sebagai gambaran, suasana jam 05.00 di sana sudah sangat terang seperti jam 09.00. Sementara suasana jam 20.00 malah masih terang seperti jam 16.00.

Namun demikian, durasi yang lebih panjang cukup terbantu dengan suhu dan lingkungan di Swedia yang teduh. Suhu di Swedia bisa berkisar antara 7-12 derajat Celcius, ini artinya sangat jauh jika dibandingkan dengan Jakarta yang bisa mencapai 34 derajat Celsius.

Selain itu kualitas udara di Swedia juga tergolong sangat baik. Negara ini hampir tidak ada polusi, bahkan pemerintah dan rakyat Swedia sangat menjaga ketat alamnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini