nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pengaruh Media Sosial Sudah Dibaca Nabi Muhammad SAW Sejak Dulu, Begini Katanya!

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 13 Mei 2019 12:05 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 05 13 614 2054976 pengaruh-media-sosial-sudah-dibaca-nabi-muhammad-saw-sejak-dulu-begini-katanya-0QvUl5wwU1.jpg Media Sosial (Foto: Standart Media)

MASYARAKAT modern seperti sekarang tidak bisa lepas dari ponsel pintar, termasuk di dalamnya media sosial. Segala kegiatan sebisa mungkin dibagikan di media sosial, dan dengan maksud saling berbagi.

Di Indonesia sendiri, perkembangan digital mengalami peningkatan. Berdasarkan hasil riset Wearesosial Hootsuite yang dirilis Januari 2019, pengguna media sosial di Indonesia mencapai 150 juta atau sebesar 56% dari total populasi. Jumlah tersebut naik 20% dari survei sebelumnya. Sementara itu, pengguna media sosial mobile (gadget) mencapai 130 juta atau sekitar 48% dari populasi.

Dari riset tersebut, dapat diartikan masyarakat Indonesia terus tumbuh memanfaatkan media sosial. Sebut saja Facebook, Instagram, Twitter, dan WhatsApp, aplikasi ini setidaknya dimiliki masyarakat sekarang dan dari sana, informasi banyak beredar. Namun, kita mesti pandai dalam memilah informasi karena sekarang ini hoax makin pesat.

Bagi Anda yang tidak hanya menerima ilmu tapi menyebarkan informasi, sangat disarankan untuk membuat informasi yang faktual dan dapat dimanfaatkan orang banyak. Dan media sosial adalah medium yang tepat dalam menunjang penyebaran informasi ini. Sebab, tidak menutup kemungkinan informasi yang Anda berikan berdampak untuk orang banyak.

Menurut Ketua Komunitas Da'i Dai'ah Indonesia dan Ketua Permata Indonesia Ustadz Mahfud Said, bahkan Nabi Muhammad SAW sudah mengingatkan 1400 tahun yang lalu, orang lain bisa melakukan suatu perbuatan karena terpengaruh oleh informasi yang Anda berikan, baik positif maupun negatif.

"Di mana, semua itu ada pahalanya kalau diikuti dalam kebaikan, dan ada dosanya kalo dalam hal keburukan," katanya pada Okezone melalui pesan singkat, Senin (13/5/2019).

Dia melanjutkan, sebagaimana hadis sebagai berikut:

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، ومَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا ووزرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا". رواه مسلم

"Barang siapa yang mengerjakan suatu sunnah (perbuatan) baik, maka dia memperoleh pahalanya dan juga pahala dari orang-orang yang mengikuti jejaknya sesudah dia tiada, tanpa mengurangi pahala mereka barang sedikit pun. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu perbuatan buruk, maka dia akan mendapatkan dosanya dan juga dosa orang-orang yang mengikuti jejaknya sesudah dia tiada tanpa mengurangi dosa-dosa mereka barang sedikit pun." (HR. muslim)

Dari hadis tersebut, kita jadi paham betapa dahsyatnya apa yang ditulis di media sosial akan memengaruhi orang lain melakukan sesuai apa yang kita tulis di media sosial. Maka dari itu, kalau kebaikan yang ditulis dan kemudian orang lain mengikuti melakukan kebaikan tersebut, Anda sebagai penyebar informasi akan mendapat pahala luar biasa dari Allah SWT. Pun sebaliknya.

Bahkan Allah SWT bersabda:

.... وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ.......

"....Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan jejak-jejak yang mereka tinggalkan..." (Yasin: 12)

Dengan demikian, sambung Ustadz Mahfud, membagikan status di media sosial haruslah bijaksana, karena orang lain akan mudah membagikan apa yang kita tulis. Jika itu kebaikan beruntunglah kita, namun kalau keburukan, fitnah, hoax atau cacian, maka sangat merugikan kita. "Sebab, dengan informasi hoax tersebut dapat mengakibatkan orang lain melakukan dan membagikan kesalahan, di mana kita akan terkena dosanya juga," terangnya.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini