KAKEK-kakek di kaki Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, memiliki cara cukup ekstrem untuk menunggu waktu berbuka puasa alias ngabuburit. Mereka rutin berlatih sepakbola dengan melawan tim dari beragam usia, termasuk para pemuda.
Usia senja tak menyurutkan semangat kakek-kakek ini untuk bermain sepakbola. Lapangan hijau Stadion Wujil Ungaran menjadi saksi kakek-kakek penuh semangat ini berlarian mengejar bola untuk dimasukkan ke gawang lawan.
Salah satunya adalah Muhtarom yang berusia 60 tahun. Kakek satu cucu dan dua anak itu tak mau kalah dengan tim lawan yang rata-rata masih berusia muda. Meski seluruh rambutnya telah memutih, namun dua kakinya tetap lincah mengejar bola.

“Sebenarnya sepakbola ini adalah hobi saya sejak muda. Tapi memang tantangan terberat sekarang adalah faktor U (usia),” lugas Muhtarom, sambil tertawa, beberapa waktu lalu.
Meski demikian, kecintaan Muhtarom pada dunia sepakbola tak pernah lekang oleh waktu. Pada usia senja, dia aktif dalam klub sepakbola Veteran di Kabupaten Semarang. “Jadi sudah biasa main bola. Puasa juga enggak masalah, tetep latihan,” ucapnya.
Pada setiap laga latihan ini waktu pertandingan yang mestinya 2 x 45 menit diubah menjadi 2 x 30 menit. Rentang waktu pertandingan yang lebih singkat untuk menjaga kondisi fisik, sekaligus bertujuan para pemain gaek ini tak kehabisan napas.