DAUN jatuh pun tertulis di Lauhil Mahfuzh. Kita tidak tahu apa rencana Allah? Awalnya saya dapat penempatan di Yunani, negeri para filsuf, tempat peradaban akal. Demikian Sukron Makmun, Dai Ambassador Dompet Dhuafa untuk Hongkong & Macau, mengawali kisahnya dakwah nun jauh di sana.
Karena sesuatu hal, counterpart Dompet Dhuafa (DD) di sana, tidak lagi meneruskan kemitraan dakwah. Saya dipindahtugaskan ke negeri gingseng, Korea Selatan. Ketika visa dai lain sudah turun, ada dua dai yang visanya tidak turun, termasuk saya. Pihak DD akhirnya mengalihtugaskan saya. Qaddarallahu, saya bersama empat dai lainnya dapat terbang ke Hongkong (HK) tanggal 8 Mei. Kita sampai Hongkong pada tanggal 9 Mei dini hari.
Saya sudah mulai adaptasi dengan udara dan lingkungan di HK. Ditakdirkan bertemu kawan-kawan yang sedang bertugas di kantor perwakilan RI HK (KJRI). Kawan lama yang jumpa di Kairo dulu, dan kawan sesama anggota Perhati (Perhimpunan Alumni Tiongkok).
Dakwah adalah tugas, sekaligus amanah. Di manapun, kapan pun! No postpone. No excuses. Ketika sudah mulai nyaman, saya diminta ke Macau. Diaspora Indonesia di Macau sangat membutuhkan secepatnya. Jum'at habis Maghrib (10/5) saya packing. Malam itu juga relawan DD dari Macau akan menjemput. Malam sebelumnya DD-HK telah mengirim dai ke sana, tapi ada kendala di imigrasi. Ada aturan baru, harus membawa uang cash 5.000 dolar HK.
Dalam beberapa menit, saya sudah siap. Kita berangkat dari HK pukul 23:50 menggunakan transportasi darat. Naik bus no bus A11. Dari HK ke perbatasan Hongkong-Zuhai-Macau Bridge (HZMB) dengan waktu tempuh sekitar 1 jam ke perbatasan. Lalu dari perbatasan ke Macau kita tempuh selama kurang lebih 35 menit. Saya senang bisa melihat jembatan terpanjang di dunia itu. Saya video-kan. Jembatan yang memadukan antara teknologi mutakhir dan seni arsitektur modern yang luar biasa. Kita melewati terowongan bawah laut.
Jam segitu biasanya saya tidur. Tapi saya tidak mau kehilangan momen langka ini. Once upon time. Alhamdulillah, saya dapat melewati imigrasi dengan baik. Tanpa hambatan. Bahkan tidak ditanya apapun. Dari Macau ke tempat tujuan hanya sekitar 15-20 menit menggunakan taksi.
Kita sampai di Macau pukul 02:30 dini hari (11/5). Tiba di flat, sekretariat Majlis Ta'lim Indonesia Macau (MATIM) pukul 02.50. Lanjut sahur, jamaah Shubuh dan kultum, seingat saya. Itulah sebabnya dai harus siap, tidak hanya mental. Tapi fisik bahkan finansial untuk dakwah. Bil amwal wal anfus (berjuang dengan harta & jiwa), meminjam istilah kitab suci.