nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Muhammad Ibrahim Adil yang Mendapat Hidayah di Balik Dinding Penjara

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Rabu 19 Juni 2019 11:42 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 06 19 614 2068198 kisah-muhammad-ibrahim-adil-yang-mendapat-hidayah-di-balik-dinding-penjara-oRy0AGpueH.jpg Ilustrasi Seseorang yang Mendapat Hidayah (Foto: Shutterstock)

MASIH terekam jelas dalam pikiran Adil, penjara dengan ruang sempit berbau busuk dipenuhi ratusan tubuh manusia saling berdesakan. Ketika malam tiba, tak jarang suara bising memecah keheningan. Suara itu biasanya berasal dari salah satu bilik sel di Lapas Paledang, Bogor, Jawa Barat, yang diisi para 'pangeran' dan 'dayak', sebutan kasta bagi para tahanan yang mendekam di lapas tersebut.

Penjara Lapas Paledang sempat menjadi rumah sementara bagi Adil, setelah ia tertangkap basah membawa beberapa linting ganja di kawasan Depok, pada 2004 silam. Kepada Okezone, pria bernama lengkap Muhammad Ibrahim Adil itu pun menceritakan pengalaman berharga yang membuatnya memantapkan diri untuk berhijrah.

Keputusan ini tidak terlepas dari masa lalu Adil yang sangat kelam, hingga pada akhirnya ia merasa mendapatkan hidayah dari Allah SWT.

Awal mula mengenal narkoba

Adil telah mengenal minuman keras sejak dirinya masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Pada saat itu, lingkungan dan pergaulan di sekitarnya lah yang mengenalkan Adil pada barang haram tersebut.

"Jadi waktu itu yang paling gampang di raih ya anggur merah. Masuk SMP beranjak jadi obat-obatan. Nah, pas SMA, gue sebetulnya sempat sehat dan punya kehidupan yang enak banget," jelas Adil saat dihubungi Okezone via sambungan telepon, beberapa waktu lalu.

Adil menambahkan, kehidupannya semasa SMA memang sangat jauh berbeda. Ia memiliki segudang aktifitas positif seperti tergabung dalam sebuah band bernama Biscuit. Band yang didirikan oleh teman-teman sekolahnya ini ternyata cukup menjanjikan. Mereka beberapa kali berkesempatan manggung dengan sejumlah band kenamaan ibu kota seperti The Upstairs hingga Nidji.

Namun sampai pada suatu ketika, ia terpaksa dikeluarkan oleh group band tersebut karena sudah tidak memiliki visi yang sama. Momen inilah yang menjadi titik balik bagi Adil, hingga akhirnya ia kembali terjerumus pada lubang hitam.

"Sebetulnya akumulasi dari rasa kecewa yang gue rasakan sejak kecil. Lingkungan dan pergaulan gue itu emang deket dengan hal-hal seperti itu. Lalu akhirnya, gue dikeluarkan dari band. Dari situ gue mulai kacau, mulai cobain lagi obat-obatan dan ganja," terangnya.

Tumbuh besar dilingkungan keluarga yang bekerja di industri kreatif, secara tidak langsung membentuk pola pikir Adil untuk hidup mandiri. Bahkan, saat masih duduk di bangku SMA, ia sudah bisa menghasilkan uang sendiri. Dari penghasilan inilah, Adil bisa membeli ganja dan obat-obatan terlarang.

"Waktu itu gue bisnis clothing. Di Depok dulu belum banyak distro baru ada satu atau dua. Alhasil penghasilan gue lumayan besar. Tapi setiap minggu duitnya gue pake dugem. Kalau bisnis lagi gak jalan, gue mabokkan yang murah aja," ungkap Adil sembari tertawa kecil.

Mencicipi dinginnya sel penjara

Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya akan jatuh juga. Peribahasa ini telah dibuktikan Adil, saat dirinya tertangkap basah membawa beberapa linting ganja di kawasan, Depok, Jawa Barat. "Gue juga heran, kenapa saat itu gue malah lewat ke jalan itu yang notabennya gue paham betul sering ada razia. Tapi kayaknya, Allah SWT sudah menakdirkan gue harus ketangkep," kenang Adil.

Sejak saat itu, Adil berikrar bahwa ia tidak mau menyusahkan kedua orangtuanya. Ia pun menerima hukuman penjara selama kurang lebih 8 bulan yang dijatuhkan oleh pihak berwajib.

Tiga bulan pertama, pria berusia 36 tahun itu harus mendekam di Polresta Depok. Di tempat inilah pertama kali Adil mulai mendekatkan diri kepada Allah SWT. Terlebih setelah ia berkenalan dengan salah seorang tahanan yang menjadi teman pertamanya di penjara.

“Selama tiga bulan gue digulung (dipukul) oleh tahanan lain. Sampai pada akhirnya gue berkenalan dengan seorang polisi yang juga dijebloskan ke dalam penjara. Kondisinya lebih kacau daripada gue. Dia lebih parah dipukulin karena mengambil barang-barang bukan miliknya,” jelas Adil.

Setelah berkenalan, keduanya pun mulai membuka diri dan mencurahkan hati satu sama lain. Sampai pada suatu waktu, ia tersadar bahwa tidak ada tempat mengadu lagi kecuali pada Allah SWT. Adil kemudian kembali mendalami ilmu agama, dan mulai melaksanakan salat lima waktu.

Namun ternyata, cobaan masih terus berlanjut. Ia dan temannya harus dipindahkan ke Lapas Paledang di Bogor, Jawa Barat. Di tempat inilah ia merasakan mukjizat dari Allah SWT.

“Kami dipindahkan ke Paledang, penjara lama di sebuah bangunan belanda kuno. Tempatnya benar-benar tidak layak. Karena kapasitas tempat yang seharusnya diisi 500 orang, di situ malah diisi lebih dari 1500 orang,” tambahnya.

Sebelum dipindahkan, salah satu temannya mengatakan bahwa, mereka harus menyediakan pelor (uang untuk menyuap sipir agar diberi tempat yang layak di penjara). Uang tersebut harus dimasukkan ke dalam anus agar tidak ketahuan dan aman.

Namun mengingat Adil tidak ingin lagi menyusahkan kedua orangtuanya, ia pun hanya bisa pasrah. Sepanjang perjalanan ia berulang kali membaca surat An Nashr, dengan maksud minta perlindungan kepada Allah SWT.

“Waktu sampai di Paledang, teman gue tadi itu sudah habis dipukulin tahanan lain. Tapi Alhamdulillah gue enggak kena sama sekali dan bisa langsung masuk sel dengan aman,” bebernya.

Berbeda dengan sel tahanan di Polresta Depok, suasana Lapas Paledang jauh lebih mencekam dan sangat memprihatinkan. Setiap pagi, Adil selalu mencium aroma busuk yang menyeruak dari balik sel para tahanan yang mendapat julukan ‘dayak’.

“Dayak itu sebutan untuk tahanan yang kastanya paling rendah. Kasta paling tinggi itu disebut ‘pangeran’ mereka lah yang jadi penguasa di setiap sel. Mereka berhak tidur di atas panggung, sementara para ‘dayak’ harus berdesak-desakkan tidur dalam kondisi duduk, dan menyantap makanan dari sampah,” ungkap Adil.

Dipercaya menjadi Tamping (Tahanan Pendamping)

Berkat ketekunan dan perilakunya yang baik selama menjalani hukuman, Adil dipercaya menjadi Tampil oleh sipir penjara. Ia bertugas membuat kegiatan-kegiatan tertentu, seperti melaksanakan program pesantren kilat saat bulan Ramadan tiba, mengundang ustadz untuk memberikan siraman rohani, dan masih banyak lagi.

Saat didapuk menjadi tamping, Adil diminta untuk membuat sejumlah program oleh sipir penjara. Ia mengatakan sempat mengundang almarhum Ustadz Arifin Ilham untuk memberikan ceramah.

“Mendengar ceramah beliau gue merasa nikmat betul sampai tidak terasa menangis sejadi-jadinya. Gue gak tahu kenapa, tapi kayaknya karena gue akhirnya bisa berhubungan dengan orang luar. Itu rasanya luar biasa, apalagi yang datang membawa penyegaran (siraman rohani),” papar Adil.

“Mungkin juga karena akumulasi musibah-musibah sebelumnya. Gue tersentuh banget,” timpalnya.

Sampai pada akhirnya, ia kembali berkenalan dengan seorang tahanan bernama Heri. Heri diketahui pernah berdakwah dengan berjalan kaki dari masjid ke masjid, di daerah Padang, Sumatera Barat. Bisa dibilang, ilmu agamanya lebih memumpuni dibandingkan Adil.

Kesempatan ini tidak disia-siakan olehnya. Ia terus menggali ilmu dan bertukar pendapat dengan teman barunya tersebut. Dalam beberapa kesempatan, Adil juga meminta Heri untuk membantu mengisi kegiatan.

“Dia bantuin gue ngasih ide dan sempat manggil teman-temannya untuk memberikan ceramah. Ceramahnya beda. Lebih ke tauhid tanpa embel-embel apa pun,” tegas Adil. Dari kegiatan itu, Adil juga berkesempatan bertemu dengan seorang ustadz yang pada akhirnya benar-benar berhasil mengetuk pintu hatinya.

“Ustadz ini bilang kalau dia itu anak marinir dan keturunan batak. Dulu dia nasrani tapi memutuskan untuk jadi mualaf. Nah, sejak mendengar ceramah beliau, entah kenapa setiap melihat langit gue langsung nangis, mendengar sesuatu yang menyentuh nangis, disinilah gue baru tahu esensi beragama itu seperti ini,” katanya.

Sebelum mendengar ceramah beliau, Adil mengaku tidak memahami apa tujuan umat Muslim wajib melaksanakan salat lima waktu, mengaji, atau memberi zakat fitrah.

Namun setelah mendengarkan penjelasan sang ustadz, ia mulai tersadar bahwa pada dasarnya orang menunaikan salat lima waktu untuk menjalin hubungan khusus dengan Allah SWT, sementara mengaji untuk mempelajari lebih dalam tentang ajaran Islam.

Sebelum keluar dari penjara, sang ustadz sempat berpesan kepada Adil bahwa ilmu yang telah diberikan harus didakwahkan lagi kepada orang lain. Alhasil, setelah keluar dari penjara, Adil mencoba untuk mengamalkan pesan-pesan dari guru spiritualnya tersebut.

“Dakwah itu prioritasnya bukan ngajakin orang untuk benar. Tapi untuk memperbaiki diri sendiri. dan mengajarkan orang lain untuk memperbaiki diri. Perkara orang itu mau ikut atau mendengarkan, itu perkara hidayah Allah SWT,” katanya.

Lembaran baru

Setelah keluar dari penjara, Adil mengaku belum bisa melupakan masa lalunya yang kelam. Ia kembali terjerumus pada lubang hitam. Kali ini, narkoba yang ia gunakan jauh lebih berbahaya dari sebelumnya. Adil mulai mencoba menggunakan sabu-sabu.

“Keluar dari penjara 1-2 bulan gue maksiat lagi. Jadwal dakwah gue 3 hari setiap bulan yang biasanya gue lakukan ilang begitu saja. Waktu itu gue mulai coba pakai sabu-sabu, dan jadi pengedar ganja,” jelasnya.

Namun suatu hari, Adil tiba-tiba pingsan setelah kurang tidur selama 1 minggu penuh. Di momen inilah ia baru benar-benar merasakan hidayah dari Allah SWT.

“Enggak lama dari situ, gue ikut Lebaran sama orangtua hingga akhirnya bertemu dengan istri gue yang sekarang. Alhamdulillah, 2010 lalu gue resmi menikah. Dia yang bantu gue untuk berubah dan mendukung gue berdakwah. Setelah hijrah, sekarang tantangan terberatnya untuk menjaga agar terus istiqamah,” tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini