nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pernikahan Bukan Transaksi Jual Beli, Berapa Besaran Mahar yang Dianjurkan Islam?

Intan Afika Nuur Aziizah, Jurnalis · Rabu 19 Juni 2019 17:27 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 06 19 614 2068328 pernikahan-bukan-transaksi-jual-beli-berapa-besaran-mahar-yang-dianjurkan-islam-ZUZOpSvxUj.jpg Cincin pernikahan (Foto: Islandweddingvideo)

SAAT ini kerap kali orang tua berlebih-lebihan dalam meminta mahar dan menuntut uang yang sangat banyak (kepada calon suami) dalam pernikahan. Hal ini seharusnya tidak boleh terjadi.

Seperti yang dikatakan Ustadz Khalid Basalamah, “Bapak Ibu harus paham teman-teman sekalian, kalau kita menikahkan anak-anak kita, bukan transaksi jual beli. Karena ada orang tua yang membuat pernikahan anaknya transaksi jual beli, siapa yang bayar banyak itu yang diterima lamarannya. Sampai di tengah masyarakat kita, ada suku-suku yang berkeyakinan seperti itu. Kalau kakaknya dilamar 30 juta dia harus 40 juta. Ini seperti transaksi jual beli. Ini pernikahan akhi dan ukhti, jangan sampai melanggar.”

Mahar memang merupakan salah satu syarat yang wajib ditunaikan tetapi tidak harus memiliki harga yang tinggi. Sebagaimana kisah seorang sahabat yang akan menikah tetapi tidak memiliki harta, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerintahkan sahabat tersebut untuk mencari mahar yang memiliki nilai dan harga walaupun hanya sebuah cincin besi.

“Mahar itu sesuatu yang merupakan syarat seseorang supaya akad nikahannya ada, makanya harus kita ringankan. Makanya sudah betul kalau sudah ada perangkat salat, Al-Quran. Seperti itulah bagus. Nanti kalau misalnya sepakat kita mau buat acara gedung, biaya sekian, lalu lelaki bersodaqoh memberikan misalnya satu gedung, silahkan tapi itu tidak disebut dalam mahar. Mahar itu sesuatu yang ada pada saat akad nikah,” Ujar Ustadz Khalid Basalamah dalam video berdurasi satu menit.

Cincin pernikahan

Besaran nilai mahar tidak ditetapkan oleh syariat. Mahar boleh saja bernilai rendah dan boleh saja bernilai tinggi asalkan saling ridha, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Annisa ayat 4. Mahar atau mas kawin nantinya diberikan kepada istri menjadi hak istri sepenuhnya.

“Berikanlah mahar (mas kawin) pada wanita yang kamu nikahi sebagai sebuah pemberian dengan penuh kerelaan …..…” (QS. An-Nissaa : 4).

Perlu di ketahui bahwa mahar hanyalah sebuah media, bukan sebuah tujuan utama. Tujuan menikah dalam Islam bukanlah sarana untuk mencari mahar yang mahal ataupun mahar yang besar. Mas kawin atau mahar juga bukan untuk dijadikan bahan pameran kepada orang-orang. Mahar bertujuan untuk memuliakan mempelai wanita. Jadi, sebaiknya besar nilai mahar tidak terlalu mahal dan membebankan calon suami (apalagi sampai berhutang untuk menikah karena tabungan tidak cukup), tentu akan mengurangi keberkahan pernikahan.

Dalam riwayat Ahmad,

ﺇِﻥَّ ﺃَﻋْﻈَﻢَ ﺍﻟﻨَّﻜَـﺎﺡِ ﺑَﺮَﻛَﺔً ﺃَﻳَْﺴَﺮُﻩُ ﻣُﺆْﻧَﺔً

Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya.”

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini