nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Paksa Istri Berhubungan Badan Tak Sesuai Sunah Nabi

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Selasa 09 Juli 2019 18:13 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 07 09 614 2076676 paksa-istri-berhubungan-badan-tak-sesuai-sunah-nabi-MCk4EF4ebj.jpg Suami tak boleh melakukan kekerasan seksual pada istri (Foto: Pixabay)

Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) kembali menghebohkan publik. Jumat, 5 Juli 2019, seorang pria bernama Anton Nuryanto dilaporkan membacok istrinya (FZ) karena menolak diajak berhubungan badan di Jalan Ancol Selatan II, Sunter Agung, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Alhasil, FZ terpaksa dilarikan ke rumah sakit karena mengalami luka serius akibat kekerasan. Sementara si pelaku telah dibawa ke Polsek Tanjung Prio. Anton dikenakan Pasal 44 Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2004 tentang KDRT dengan ancaman hukuman lima tahun penjara.

 nikah

(Foto: Ist)

Kejadian ini rupanya menarik perhatian Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan). Mereka bahkan sampai mengeluarkan sebuah pernyataan bahwa memaksa istri untuk melakukan hubungan seksual adalah bentuk pemerkosaan terhadap istri atau lebih tepatnya marital rape.

Secara harfiah, marital rape merupakan hubungan seksual antara pasangan suami istri dengan cara kekerasan, paksaan, ancaman atau dengan cara yang tidak dikehendaki pasangan masing-masing. Kekerasan seksual juga masuk ke dalam kategori KDRT.

Lalu, bagaimana Islam memandang hal ini? Menurut penjelasan Ustadz Abdul Malik Mughni, selaku Pengurus LTN PBNU, dalam ajaran Islam, semua orang wajib memperlakukan sesama umat Muslim dengan baik.

"Memangnya ada manusia yang mau diperlakukan dengan buruk? Nah, dalam kehidupan rumah tangga, kewajiban istri memang taat kepada suami. Sementara kewajiban suami memperlakukan istri dengan baik, seperti menafkahinya lahir dan batin," tutur Ustad Abdul Malik saat dihubungi Okezone via sambungan telepon, Selasa (9/7/2019).

Ustadz Malik menambahkan, bila suami berlaku semena-mena, maka sang istri pun berhak untuk meminta talak. Bahkan, Imam Al-Ghazali dalam kitabnya berjudul Al-Adab fid Din dalam Majmu'ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 442) menjelaskan tentang adab seorang suami terhadap istri sebagai berikut:

آداب الرجل مع زوجته: حسن العشرة، ولطافة الكلمة، وإظهار المودة، والبسط في الخلوة، والتغافل عن الزلة وإقالة العثرة، وصيانة عرضها، وقلة مجادلتها، وبذل المؤونة بلا بخل لها، وإكرام أهلها، ودوام الوعد الجميل، وشدة الغيرة عليها

Artinya: "Adab suami terhadap Istri, yakni berinteraksi dengan baik, bertutur kata yang lembut, menunjukkan cinta kasih, bersikap lapang ketika sendiri, tidak terlalu sering mempersoalkan kesalahan, memaafkan jika istri berbuat salah, menjaga harta istri, tidak banyak mendebat, mengeluarkan biaya untuk kebutuhan istri secara tidak bakhil, memuliakan keluarga istri, senantiasa memberi janji yang baik, dan selalu bersemangat terhadap istri."

Dalam ajaran Islam juga sudah diterangkan bahwa kedudukan suami dan istri itu setara, artinya sama-sama makhluk Allah yang mengikat janji untuk beribdah kepada-Nya. Dalam kesetaraan itu ada kewajiban. Kewajiban istri adalah mengikuti mengikuti permintaan suami asal tidak melanggar ketentuan syariat Islam.

Bila dikaitkan dengan kasus Anton yang memaksa istrinya untuk berhubungan badan, Ustadz Abdul Malik menjelaskan bahwa hal tersebut berkaitan erat dengan etika dan akhlak si pelaku. Dalam syariat Islam, perilaku Anton yang memaksa sang istri juga dianggap tidak baik, dan tidak sesuai dengan sunah Nabi Muhammad SAW.

"Secara akhlak, kalau mau mengikuti Rasullullah, beliau selalu memperlakukan perempuan dengan baik. Kita pun harus megikuti sunahnya dan tidak memperlakukan mereka dengan semena-mena karena di mata Islam suami dan istri itu setara," tegas Ustadz Abdul Malik.

Penjelasan lengkap tentang kesetaraan suami dan istri dalam Islam bisa dilihat dari firman Allah SWT di bawah ini:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah[2]: 187).

Ustadz Abdul Malik mengatakan, ayat ini mengandung pesan tentang keseteraan suami dan istri. Pada kalimat, 'nisaukum hunna libaasun lakum, wa antum libaasun lahunna,' disebut bahwa istri adalah pakaian bagi suami, suami juga pakaian bagi istrinya.

"Artinya keduanya harus saling menutup aurat, saling melengkapi, dan saling berbuat baik. Karena sebagaimana kita memperlakukan pakaian kita, masa mau dikoyak sama kita sendiri," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini