Ibadah merupakan bagian ketundukan hamba kepada Allah SWT, sang pencipta. Ibadah dibagi menjadi dua, ada ibadah mahdhah yang berarti secara ritus dan praktik langsung 'berinteraksi' dengan Allah seperti salat, dan ada juga ibadah ghairu mahdhah yang tidak langsung 'berinteraksi' dengan Allah, tetapi dengan sesama makhluk ciptaan-Nya seperti saling tolong menolong dalam kebaikan.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering melihat interaksi antar manusia yang membanggakan ibadah pribadinya. Seperti kebanggaan selalu melaksanakan salat berjamaah di masjid.
Namun apakah hal tersebut dibenarkan dalam pandangan Islam? Berikut penjelasannya.
"Dalam tinjauan fikih, salat berjamaah di masjid merupakan keutamaan dan ada pendapat hal itu fardu kifayah yang merupakan kewajiban yang akan gugur jika sebagian Muslim mengerjakannya. Bahkan ada pendapat lain yang menyatakan hal tersebut fardu ‘ain yaitu kewajiban yang harus dikerjakan semua laki-laki akil baligh. Dalam sebuah riwayat dikatakan pahala salat berjamaah itu 27 derajat sementara jika salat munfarid (tidak berjamaah) hanya mendapatkan 1," ujar Ustadz Abdul Wahab, CEO Santrionline pada Okezone, Selasa (16/7/2019).
"Melihat keutamaan tersebut, semua orang tentu berlomba-lomba untuk melaksanakan salat berjamaah. Tidak heran misalnya, belakangan di beberapa daerah sering diadakan semacam rutinitas salat Subuh berjamaah yang dipimpin langsung oleh kepala daerah, baik itu gubernur atau bupati," lanjutnya.
Di tengah semaraknya ibadah salat berjamaah di masjid, ada saja orang yang suka mengolok-olok orang lain yang tidak salat berjamaah. Mereka merasa lebih baik daripada orang lain yang jarang atau bahkan sama sekali tidak suka salat berjamaah di masjid.
Mereka menganggap orang tersebut sebagai orang yang lalai dalam menjalankan perintah agama. Lantas bagaimana pandangan Islam terhadap sikap ini?
Sikap tersebut ternyata termasuk sikap tercela dan termasuk dalam sifat sombong. Sombong merupakan suatu penyakit hati yang mana pengidapnya merasa bangga dan memandang tinggi atas diri sendiri.
Sikap ini dilarang dan harus dihindari oleh manusia agar tidak dapat murka dari Allah Swt. Rasulullah SAW bersabda, ”Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada sifat sombong, walaupun hanya seberat biji sawi,” (H. R. Muslim).
"Dalam tinjauan tasawuf, sikap merasa lebih baik merupakan sikap tercela. Sebab sikap tersebut merupakan ekspresi kesombongan diri. Kesombongan dalam riwayat sahih merupakan sebab Iblis terusir dari surga karena menganggap dirinya lebih baik dari Adam," papar Ustadz Abdul Wahab.
Oleh karena itu, kita tidak boleh menyombongkan diri dengan membanding-bandingkan ibadah yang kita lakukan dengan ibadah yang orang lain lakukan. Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri. Sebagaimana dalam surah Luqman ayat 18, Allah Ta’ala berfirman,
وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اللأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَجُوْرٍ
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman:18)
(Dyah Ratna Meta Novia)