nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Padamnya Cahaya Matahari dari Perspektif Alquran dan Sains

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 09 Agustus 2019 23:48 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 08 09 614 2090065 padamnya-cahaya-matahari-dari-perspektif-alquran-dan-sains-bLztVVZqEW.jpg Matahari di langit (Foto: BBC)

Sinar matahari menjadi komponen penting dalam kehidupan makhluk hidup di dunia. Tapi, siapa sangka kalau ternyata sinar matahari akan lenyap dari kehidupan ini seiring berjalannya waktu.

 Matahari di langit

Momen menakutkan itu mungkin belum bisa diprediksi kapan, tetapi Allah SWT menjelaskan kalau padamnya sinar matahari akan terjadi dan itu tertuang dalam Alquran.

Allah berfirman, "Maka apabila mata terbelalak (ketakutan) dan bulan pun telah hilang cahayanya, lalu matahari dan bulan dikumpulkan, pada hari itu manusia berkata, 'Ke manakah tempat berlari?' Tidak! Tidak ada tempat berlindung!" (Al-Qiyamah: 7-11).

Selain ayat tersebut, Allah SWT dalam surat lain menjelaskan ciri-ciri padamnya sinar matahari di Alquran.

"Apabila matahari dijadikan mengerut." (At-Takwir: 1).

"Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui." (Yasin: 38).

"Dia menundukkan matahari dan bulan; dan masing-masing beredar menurut waktu yang telah ditentukan." (Ar-Ra'd: 2).

"Tidakkah engkau perhatikan bahwa Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam, dan Dia menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar sampai pada waktu yang telah ditentukan." (Luqman: 29).

Ayat-ayat tersebut memberi gambaran bagaimana kondisi padamnya cahaya matahari dan itu juga menjadi gerbang dari hari kiamat. Ketentuan batas waktu tersebut merupakan suatu bentuk kekuasaan Allah terhadap keduanya.

Sementara itu, ilmu pengetahuan coba menjawab bagaimana peran matahari di bumi ini dan apa dampak yang bakal terjadi jika sinar matahari padam.

Dalam buku berjudul "Sains dalam Alquran: Mengerti Mukjizat Ilmiah Firman Allah" karya Dr Nadiah Thayyarah, dijelaskan di sana, matahari menghasilkan daya gravitasi yang sangat kuat terhadap unsur-unsur penyusunnya sehingga unsur-unsur itu tertarik ke pusat.

Hal ini menimbulkan tekanan hebat di dalam tubuh matahari. Tekanan itu setara dengan 400 miliar kali tekanan udara yang ada di permukaan bumi. Tekanan yang meningkat kuat itu menyebabkan panas inti meningkat drastis hingga 15 juta derajat Celsius. Suhu yang sangat panas ini membantu memudahkan proses pemanasan yang terjadi di perut matahari. Fusi nuklir itu kemudian menghasilkan energi matahari yang kemudian dipancarkan ke bumi.

Energi yang dilepaskan matahari setiap detiknya sekitar 500 x 1021 tenaga kuda. Dari energi sebesar itu, yang sampai di bumi hanya 0,1 persennya saja. Tanpa adanya energi matahari tersebut, tidak mungkin ada kehidupan di permukaan bumi. Sebab, energi tersebut diperlukan oleh manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Selain itu, energi tersebut juga penting untuk dipertimbangkan gerakkan awan, turun hujan, salju, petir, dan kilat; membahas gelombang laut melalui topan; dan memunculkan feno pasang surut air laut dan samudra.

Matahari senantiasa mengatur keseimbangan antara daya gravitasi

yang menarik unsur-unsur penyusunnya ke pusat dan daya dorong ke luar yang menghasilkan lidah api yang sempurna bagai menghasilkan dari hasil panas di pusat matahari.

Matahari senantiasa mengaktifkan eksistensinya sebagai pijar gas yang bisa diaktifkan dengan sendirinya. Jika terjadi suatu perubahan pada ukuran matahari, niscaya matahari sudah meledak. Hal ini semakin mengesankan adanya keseimbangan yang sangat sempurna yang diciptakan oleh Allah untuk matahari.

Bagaimana menurut sains modern?

Proses fusi nuklir atom-atom hidrogen untuk menghasilkan gas helium di perut matahari mungkin akan terus berlangsung untuk jutaan tahun. Namun, habisnya hidrogen dari perut matahari dan melimpahnya gas helium di dalamnya akan menimbulkan suatu kondisi di mana tidak ada keseimbangan pembagian materi.

Helium empat kali lebih berat dari hidrogen. Ini berarti bahwa materi berbahaya matahari dapat menjadi kacau dan keseimbangan menjadi hilang. Oleh sebab itu, harus ada pergerakan yang lengkap untuk memulihkan keseimbangan matahari. Keseimbangan itu bisa disetujui jika bagian luar matahari mengungkap sebagian besar dan inti matahari menyusut.

Ketika itu terjadi, warna matahari akan berubah menjadi merah. Dengan penggelembungan itu, matahari menjadi bintang raksasa yang menelan tiga planet yang paling dekat, yaitu Merkurius, Venus, dan Bumi. Oleh karena itu, fase ini dinamakan fase Raksasa Merah.

Jika kekuatan di dalam matahari melemah, kulit permukaan matahari tidak akan mampu menyandarkan dirinya pada apa pun. Tubuh matahari kemudian akan hancur dalam suatu proses yang dinamakan pengerutan (takwir). Hal itu disebabkan oleh tarik-menarik di antara bagian-bagian dari matahari itu sendiri,suatu hal yang menyebabkan matahari menyusut dan mengerut dengan sangat cepat dan tiba-tiba.

Maka, leburlah materi-materi dalam matahari, bagian-bagian yang saling terkait, dan atom-atom di dalam matahari berdempetan satu cama lain. Namun, kekuatan repulsi elektrik di antara elektron-elektron berupaya untuk saling berdempetan lagi bilamana jarak di antara mereka sedikit jauh.

Dengan demikian, kekuatan repulsi elektrik dan memperbaiki (yang menyebabkan pengerutan) menjadi seimbang. Tatkala keseimbangan ini terwujud, matahari telah mencapai tingkat keselamatannya dan menjadi bintang katai putih. Pada saat itu matahari tidak menyisakan cahayanya kecuali hanya cahaya suram yang lemah dan momen hilangnya cahaya matahari terjadi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini