nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cerita Nusron Wahid tentang Firasat Sebelum Mbah Moen Wafat

Novie Fauziah, Jurnalis · Rabu 14 Agustus 2019 08:58 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 08 14 614 2091641 cerita-nusron-wahid-tentang-firasat-sebelum-mbah-moen-wafat-7JoODrzdto.jpg Cerita Nusron Wahid tentang firasat sebelum Mbah Moen wafat (Foto : Ist)

Banyak yang kehilangan dengan sosok KH Maimoen Zubair (Mbah Moen), juga dirasakan oleh Ketua Umum Gerakan Pemuda (GP) Ansor -Nahdlatul Ulama (NU), Nusron Wahid. Dia menceritakan kedekatannya dengan ulama Nusantara karismatik tersebut.

Sejak kecil, Nusron sudah menjadi santri Mbah Moen. Dia mengatakan, setiap bulan Ramadan mulai Madrasah Ibtidaiyah (MI) hingga perguruan tinggi selalu mengikuti pesantren kilat di Pondok Pesantren Al Anwar Sarang, Rembang.

"Sejak saya MI sampai saya kuliah. Sampai sekarang, meski ada kesibukan saya itu setiap jumat, sabtu minggu bulan puasa ikut pengajian (Mbah Moen)," katanya pada Okezone saat ditemui di kediaman Habib Luthfi Yahya, Majelis Talim Darul Hasyimi, Jakarta Timur, baru-baru ini.

Mbah Moen wali

(Foto : Ist)

Satu hari sebelum keberangkatan tepatnya 27 Juli 2019, Nusron bertemu dengan Mbah Moen di salah satu hotel di kawasan Jakarta Selatan pukul 18.30 hingga 22.00 WIB. Tak disangka, ternyata pertemuan tersebut menjadi terakhir kalinya.

Saat itu Nusron memiliki firasat karena biasanya Mbah Moen selalu menolak jika sisa makanannya dihabiskan santri. Tapi malam itu berbeda, Mbah Moen malah menawarinya menyantap makanannya.

"Firasat saya satu, biasanya beliau itu sisa makanannya gak boleh dimakan, gak boleh diminta santri. Tapi pada malam itu dia nawarin "ayo mas Nusron makan" "Eggak Mbah, saya pingin nunggu sisa makanannya Mbah" . Seketika Mbah berhenti, dan makanannya dikasihkan saya semuanya," ujar Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) itu.

Selain itu, Mbah Moen juga memberi amanah berupa 'wejangan' pada Nusron. Bahwa Indonesia harus dijaga dengan pilar nasionalis dan menitik-tekankan bahwa nasionalisme jangan dipisahkan dengan agama, serta agama jangan dipisahkan dengan nasionalisme.

Baginya, Mbah Moen merupakan sosok Ulama Multitalenta dan berakhlak mulia. Memiliki ciri paling khas, dari sekian ulama NU yang ada. Bahwa menurut Nusron, Mbah Moen mempunyai empat kategori, seperti:

Mbah Moen dicintai

(Foto : Ist)

Pertama, Tandur. Yaitu memiliki Pondok Pesantren untuk mendidik umat dan menjadi ulama.

Kedua, Tutur. Yaitu penuturan atau perkataannya selalu baik terhadap siapa pun.

Ketiga, Sembur. Doanya (Mbah Moen) selalu dikabul dan dapat menjadi 'obat' atau 'menyembuhkan' oranglain.

Keempat, Catur. Seorang Ulama yang bermain politik dengan tujuan demi kepentingan umat.

"Ada orang yang tuturnya bagus tapk tidak punya Pesantren. Ada yang tuturnya bagus tapi tidak bisa nyembur. Mbah moen punya keempatnya," kaya Nusron.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini