K.H. Hasyim Asy’ari, dalam kitabnya yg berjudul Adabul ‘Alim wal Muta’allim, menasihati kita untuk berhati-hati dalam memilih guru agama.

Kenapa memilih guru agama harus hati-hati? sebab tak semua yang disebut guru memiliki niat yang tulus untuk membimbing umat. Tidak semua guru bersih dari cita-cita duniawi dan kepentingan pribadi.
Namun memang ada guru yang justru mengejar kesuksesan pribadi. Meski demikian masih ada guru yang hidupnya dituntun hikmah. Salah satu makna hikmah adalah, kearifan yang lahir dari pergulatan masa lalu, kemudian diamalkan demi kebaikan pada masa depan.
Seperti dilansir Muslim Moderat, orang-orang beruntung jika dididik oleh guru yang dituntun hikmah. Sebab, berkaca pada apa yang telah dialaminya sendiri, dia pasti memikirkan nasib muridnya kelak.
Alumnus UIN Sunan Kalijaga Lev Widodo mengatakan, guru yang baik tidak akan memanjakan Anda. Ketegasannya adalah kasih sayangnya buat Anda. Marahnya adalah cinta tulusnya kepada Anda. Gemblengannya adalah doanya untuk Anda.
Dulu dia pernah jatuh terperosok. Dia tidak ingin Anda melakukan kesalahan yang telah dibuatnya.
Menurut Lev Widodo, seperti itulah guru yang ikhlas. Seperti itulah ulama yang tidak memperjual-belikan ilmunya.
Dia, meminjam adagium Ki Hajar Dewantara, berhamba kepada sang anak.
Dalam naungan taufik dan pangestu Ilahi, dia membimbing umat agar tak salah langkah, agar hidup mulia dunia akhirat.
"Semoga kita dipertemukan dengan guru-guru yang ikhlas," ujar Lev Widodo.
(Dyah Ratna Meta Novia)