Share

Mau Nikah? Ketahui Dulu 4 Syarat Mahar Pernikahan dalam Islam

Abu Sahma Pane, Jurnalis · Kamis 19 September 2019 10:00 WIB
https: img.okezone.com content 2019 09 19 330 2106656 mau-nikah-ketahui-dulu-4-syarat-mahar-pernikahan-dalam-islam-6T9Si427L9.jpg Ilustrasi. Foto: Shutterstock

BAGI umat Islam, mahar merupakan salah satu syarat agar ijab kabul pernikahan dianggap sah. Namun mahar pernikahan juga ada syaratnya.

Mahar pernikahan tidak harus emas atau perak. Boleh selain itu asalkan tidak najis dan bukan barang milik orang lain.

Syaikh Abdurrahman Al Juzairy dalam Kitab karyanya, menyampaikan 4 syarat mahar atau di Indonesia familiar disebut maskawin tersebut. Nah, bagi yang mau menikah, ketahui dulu 4 syarat mahar ini:

1. Harta yang dijadikan mahar harus yang bermanfaat, atau yang bisa diambil manfaat. Maka tidak memakai mahar khomer misalnya, atau memakai mahar babi, darah dll. Mahar harus sesuai dengan pandangan dalam Syariat Islam.

2. Berupa harta yang berharga (mempunyai nilai harga). Tidak sah sesuatu yang sedikit dan tidak ada harganya. Misalnya sebutir beras. Sedang nilai banyaknya mahar itu tidak dibatasi berapapun banyaknya.

3. Mahar pernikahan tidak boleh dari sesuatu yang belum diketahui (dalam hal ini para ulama berpandangan dengan beberapa pendapat).

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

4. Mahar tidak boleh diambil dari sesuatu yang dighosob (mengambil hak milk orang lain secara paksa).

Pendapat para Imam Madzhab terkait masalah-masalah yang berhubungan dengan mahar; ada beberapa pandangan hukum:

Pendapat Madzhab Maliki:

Apabila seseorang memakai mahar sesuatu yang haram atau najis, seperti khomer atau babi atau yang lain, maka akadnya fasid atau rusak.

Pendapat Madzhab Maliki:

“Apabila mahar itu berasal dari barang yang dighosob yang belum dimiliki, kalau si suami tau akan hal itu. Maka akadnya fasid atau rusak. Rusak sebelum dukhul. Kalau si istri itu tidak tau bahwa mahar tersebut dari hasil ghosob, hanya suaminya saja yang tau akan hal tersebut, maka nikahnya sah.

Pendapat Madzhab Hanbali:

“Sah hukumnya, mahar yang diambilkan atau diberikan dari sesuatu yang bernilai beberapa manfaat”. Seperti seseorang yang menanam suatu tanaman disuatu tanah yang dimilikinya, dengan syarat ada manfaat yang jelas didapat dan diketahuinya.

Pendapat Madzhab Syafi’i :

“Sah hukumnya, mahar itu diberikan dari sesuatu yang bernilai manfaat”. Seperti: seseorang yang membeli suatu rumah dengan mengambil manfaat dari tanahnya untuk tanaman dalam satu masa yang ditentukan, maka sah dengan menjadikan atau mengambil azas manfaat dijadikan mahar atau maskawin. Setiap sesuatu yang mempunyai nilai harga atau manfaat maka sah atau boleh dijadikan mahar.

 Lebih lengkap dan jelasnya, silakan dibuka dan dibaca Kitab Al Fiqh ‘ala Al Madzahib Al Arba’ah karya Syaikh Abdurrahman Al Juzairy, halaman 93-107, Juz 4, terbitan Daar el Fikr.

Disarikan dari Kitab Dhaul Misbah fi Bayani Ahkam an Nikah, karya Hadratussyaikh Kiai Hasyim Asy’ari dan Kitab Madzahib al Arba’ah karya Imam Abdurrahman Al Juzairy.

Demikian ditulis KH. Fawaid Abdullah, Santri Tebuireng 1989-1999, Ketua Umum IKAPETE Jawa Timur 2006-2009, Pengasuh Pesantren Roudlotut Tholibin Kombangan Bangkalan Madura, sebagaimana dilansir dari Tebuireng Online pada Kamis (19/9/2019).

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini