nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mencekamnya Serangan Teroris di Masjidil Haram 1979, Jamaah Indonesia Ikut Terjebak

Della Astrini, Jurnalis · Rabu 25 September 2019 15:37 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 09 25 614 2109198 mencekamnya-serangan-teroris-di-masjidil-haram-1979-jamaah-indonesia-ikut-terjebak-WraFfcoZpv.jpg Aksi teroris di Masjidil Haram (Foto: Arab News)

Banyak yang belum tahu kalau Masjidil Haram pernah diserang teroris. Masyarakat pada umumnya hanya mengetahui kalau Masjidil haram kondisinya selalu baik-baik saja.

 Masjidil Haram pernah diserang

Tepat pada 20 November 1979 yang lampau, sekelompok teroris terorganir menyerbu Masjidil Haram di Makkah, Arab Saudi. Mereka membunuh dan melukai ratusan jamaah yang sedang beribadah. Ini merupakan masa tergelap di Arab Saudi.

Rupanya Juhayman Al-Otaibi yang menjadi dalang di balik serangan teroris di Masjidil Haram kala itu. Ia merupakan mantan pasukan elit Garda Nasional yang kecewa.

Kurang lebih empat dekade usai peristiwa mengerikan itu, dalam sebuah wawancara dengan TV Amerika, CBS's "60 Minutes", Putra Mahkota Mohammed bin Salman berjanji untuk akan menjadikan Arab Saudi sebagai negara yang lebih moderat.

"Kami menjalani kehidupan yang sangat normal seperti negara-negara lainnya. Perempuan mengendarai mobil. Terdapat bioskop di Arab Saudi. Perempuan juga bekerja di mana-mana. Kami hanyalah orang normal yang berkembang seperti negara lain di dunia hingga peristiwa tahun 1979,” terang Putra Mahkota Mohammed bin Salman.

Juhayman Al-Otaibi berbuat jahat atas nama agama. Ia berusaha menguasai Masjidil Haram selama dua minggu melawan pasukan khusus Saudi. Sikap buruk Al-Otaibi ini tak pernah dibenarkan oleh ajaran Islam yang sesungguhnya.

Dalam sebuah video yang ditayangkan oleh King Abdulaziz Foundation for Research and Archives, Syekh Muhammad bin Subail, imam Salat Subuh saat terjadinya penyerangan Masjidil Haram tersebut mengatakan, kejadian itu merupakan peristiwa yang paling penting dalam hidupnya.

Syekh Muhammad bin Subail mengatakan, ia tiba di Masjidil Haram 30 menit sebelum Salat Subuh. Ia tak merasakan apa-apa waktu itu.

"Tapi selesai Salat Subuh, sejumlah teroris dengan senjatanya menyerbu masjid menuju Kakbah," tambahnya.

“Saya pergi ke salah satu ruangan. Saya langsung menelepon Syekh Nasser bin Hamad Al-Rashed, ia adalah Kepala Presidensi Dua Masjid Suci kala itu. Saya memberi tahu dia tentang situasi gawat tersebut dan menyuruhnya mendengarkan peluru yang ditembakkan via telepon. Lalu saya menyaksikan para teroris memerintahkan para jamaah yang sedang beribadah untuk meninggalkan halaman masjid," terang Syekh Muhammad bin Subail.

Syekh Muhammad bin Subail memutuskan untuk pergi setelah sekitar empat jam bertahan di Masjidil Haram. Ia lalu turun ke lantai bawah, menuntun para jamaah haji Indonesia yang terjebak di sana untuk keluar ketika dua teroris berdiri di gerbang yang mengarah ke luar ruang bawah tanah.

Kala itu gerbang sudah mulai ditutup dan dirantai. Teroris mengambil posisi di menara masjid dan menembak jamaah di Masjidil Haram yang tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa.

Para teroris telah mengambil posisi di bagian menara Masjidil Haram. Mereka akan menembak pasukan Saudi jika mereka terlalu dekat dengan halaman masjid. Pada saat itu diperkirakan 100.000 jamaah berada di masjid pagi itu.

Lahir dan besar di Mekah, seorang ibu rumah tangga Fajr Al-Mohandis mengingat hari mengerikan tersebut. Ia mengatakan, kala itu suasana Makkah sangat mencekam.

“Saat itu saya adalah seorang siswa dan setiap hari saya pergi ke sekolah sama seperti semua anak sekolah pada umumnya. Semua orang pergi bekerja seperti biasa, termasuk mereka yang bekerja di Masjidil Haram,” katanya.

Seperti dilansir Arab News, Rabu (25/9/2019), Fajr Al-Mohandis mengetahui terjadi aksi terorisme di Masjidil Haram saat ia sedang berada di sekolahnya. Ia lalu dijemput oleh orangtuanya.

"Kami mendengar suara tembakan pada siang hari, dan itu menjadi menjadi pertanda ada sesuatu yang salah. Namun kami tak sadar bahwa serangan teroris sedang terjadi sampai orangtua datang menjemput."

"Makkah adalah kota yang sangat kecil pada waktu itu. Berita bisa menyebar begitu cepat," ujarnya.

Fajr Al-Mohandis ingat bagaimana sekolahnya ditutup selama dua minggu saat kejadian tersebut. "Suasana sangat mencekam, tak ada yang tahu apa yang terjadi. Kami sangat ketakutan," katanya.

“Ini adalah kota suci. Ini adalah Masjid Agung. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Ketika saya masih muda itu semua terlalu berat untuk dipahami. Namun penduduk Makkah berusaha menjaga situasi tetap aman. Mereka meyakinkan anak-anak kalau semua akan baik-baik saja dan pasukan khusus Saudi akan membebaskan Masjidil Haram dari serangan teroris," terangnya.

Rupanya motif Juhayman Al-Otaibi melakukan aksi terorisme ke Masjidil Haram dilatarbelakangi oleh kemarahan terhadap masyarakat Saudi yang dinilai sudah terpengaruh nilai-nilai barat. Ia merekrut anggotanya dari berbagai negara dengan berkedok jadi orang saleh.

Akhirnya diketahui kalau para teroris menyelundupkan amunisi dengan memanfaatkan tong yang disamarkan sebagai peralatan konstruksi, disimpan di ruang bawah tanah dan menara masjid. Para teroris mengambil keuntungan dari upaya perluasan Masjidil Haram.

Pasukan Saudi menyerbu teroris yang berada di masjid. Pertempuran selanjutnya menewaskan sebagian besar teroris, termasuk Al-Qahtani. Sebanyak 67 teroris ditangkap termasuk dalangnya Juhayman Al-Otaibi.

Pengepungan Masjidil Haram berakhir pada 4 Desember 1979. Pada 9 Januari 1980, Juhayman Al-Otaibi dieksekusi mati.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini