Fajr Al-Mohandis ingat bagaimana sekolahnya ditutup selama dua minggu saat kejadian tersebut. "Suasana sangat mencekam, tak ada yang tahu apa yang terjadi. Kami sangat ketakutan," katanya.
“Ini adalah kota suci. Ini adalah Masjid Agung. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Ketika saya masih muda itu semua terlalu berat untuk dipahami. Namun penduduk Makkah berusaha menjaga situasi tetap aman. Mereka meyakinkan anak-anak kalau semua akan baik-baik saja dan pasukan khusus Saudi akan membebaskan Masjidil Haram dari serangan teroris," terangnya.
Rupanya motif Juhayman Al-Otaibi melakukan aksi terorisme ke Masjidil Haram dilatarbelakangi oleh kemarahan terhadap masyarakat Saudi yang dinilai sudah terpengaruh nilai-nilai barat. Ia merekrut anggotanya dari berbagai negara dengan berkedok jadi orang saleh.