Pesan Kiai Said di Hari Santri, Islam Tidak Memberangus Kebudayaan

Novie Fauziah, Jurnalis · Rabu 23 Oktober 2019 00:22 WIB
https: img.okezone.com content 2019 10 23 614 2120460 pesan-kiai-said-di-hari-santri-islam-tidak-memberangus-kebudayaan-yarga7CCzt.jpg KH Said Aqil dalam Perayaan Hari Santri Nasional (Foto: Novie/Okezone)

JAKARTA - Menyambut Hari Santri Nasional 2019, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar Pidato Kebudayaan di Gedung Kesenian Jakarta, Selasa (22/10/2019). Salah satu tokoh yang tampil adalah Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

Dalam kesempatan ini KH Said Aqil Siroj mengajak seluruh rakyat Indonesia, terutama umat Islam menjadi pribadi yang berbudaya dan tidak melupakan asal usulnya. Meski Indonesia dihuni mayoritas penduduk muslim, namun bukan berarti boleh melakukan judgment atau penghinaan kepada yang selain Islam.

Said Aqil orasi

"Islam turun di tanah Arab bukan untuk melakukan judgment terhadap kebudayaan, seakan-akan Islam dan budaya berada pada oposisi biner, atau berhadap-hadapan. Tetapi untuk melakukan transformasi kebudayaan, dengan cara melakukan afirmasi dan akomodasi terhadap kebudayaan-kebudayaan yang sudah ada," kata KH Said Aqil Siroj dalam pidatonya.

KH Said Aqil Siroj juga mengatakan, seorang muslim namun jangan sampai meninggalkan atau melupakan tradisi dan kebudayaan sendiri. Dalam Islam tak sedikit sejumlah tradisi tetap dipertahankan bahkan disyariatkan.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Salah satu contohnya, ujar dia, rukun Islam yang ke-5 yaitu naik haji. Merupakan ritual yang berisi napak tilas atas perilaku para Nabi. Seperti Nabi Adam, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Begitu pula dengan ibadah puasa, telah dilakukan oleh Nabi terdahulu. Di antaranya, Nabi Musa dan Siti Maryam.

"Begitu juga, ketika Islam datang ke Nusantara. Islam yang dibawa dan diajarkan oleh para Walisongo bukan dengan cara memberangus kebudayaan dan tradisi yang ada, melainkan menjadikan kebudayaan sebagai instrumen dakwah, sehingga Islam dapat bersatu dan bersenyawa dengan kebudayaan setempat," jelasnya.

Lantaran itu, tambah Kiai Said, Islam Nusantara dikembangkan oleh Nahdlatul Ulama (NU). Kebudayaan dan tradisi yang berkembang di masyarakat tidak serta merta ditolak. Namun justru, menjadikan hal ini sebagai infrastruktur dakwah. Tak lupa ini menjadi kesatuan dan persatuan bagi seluruh rakyat Indonesia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya