Lantunan suara azan lima kali sehari dari masjid di depan rumahnya pun tak dipedulikan selama Tumpi hidup di dunia hitam sekira 20-an tahun. Berulang kali Tumpi menyebut hatinya telah beku. Dia hanya tahu cara minum miras, mengonsumsi pil koplo dan menghajar orang dengan tangan kekarnya. Hingga akhirnya hidayah itu datang dan sang preman hijrah menuju kebaikan.
“Bulan lalu entah kenapa saya benar-benar merasa jenuh. Saya merenung apakah suatu saat nanti saya akan mati di jalanan pula dalam keadaan tidak mengingat pencipta saya?” ujar Tumpi.
“Apakah dosa-dosa kepada orang tua saya selama ini dapat diampuni pula? Hingga akhirnya, saya memberanikan diri bertemu dengan Kepala Satuan Koordinator Rayon (Kasat Koryon) Banser Banjarsari, Ustaz Sigit Setiawan untuk meminta bimbingan.”
Tumpi lantas memantapkan diri untuk benar-benar kembali ke jalan Allah dengan bimbingan Ustadz Sigit Setiawan dan teman-teman Ansor NU. Selang beberapa lama, ia mengetahui Banser Kota Solo menggelar Pendidikan Latihan Dasar (Diklatsar). Ia pun mendaftar untuk bergabung bersama para penjaga kiai itu.