Selama beberapa hari Tumpi ditempa dengan wawasan kebangsaan dan berbagai ajaran agama. Air matanya tak terbendung mengetahui keindahan Islam yang tidak ia pedulikan selama bertahun-tahun. Kini Tumpi berprinsip meninggalkan masa lalunya dan berjuang di jalan Allah.
Preman hijrah itu mengaku belum menguasai cara salat dan sama sekali tidak bisa membaca Alquran. Namun, Tumpi bertekad untuk memperbaiki diri menjadi sosok manusia yang berguna bagi sesama.
Bukan ditakuti karena badan kekar dan tato di wajah. “Saya besar di jalanan, kini tugas saya mengajak teman-teman saya di jalanan untuk bertobat memohon ampunan Allah,” tuturnya.
(Muhammad Saifullah )