Sesungguhnya Alquran telah menegaskan kemukjizatannya tentang perkara yang belum diketahui pada masanya, tapi akan terjadi di masa depan dengan penuh hikmah.
Itulah kemukjizatan terbesar yang dibawa Alquran tentang masa depan karena manusia tak mungkin tahu apa yang terjadi di hari esok. Dan hal itu merupakan rahasia Allah semata.

Allah berfirman,
“Katakanlah, ‘Tidak ada siapapun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib kecuali Allah,’ dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.” (Alquran Surat An-Naml: 65)
Marilah kita telusuri lebih dalam mukjizat yang Alquran ungkapkan tentang yang gaib dan apa pun tentang sebelum atau setelah kejadian yang gaib itu.
Penyakit sapi gila
Allah berfirman,
"Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, zaitun dan kurma, kebun-kebun (yang) lebat, buah-buahan, dan rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternak.” (Alquran Surat Abasa: 27-32).
"Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanaman yang daripadanya makan hewan ternak mereka dan mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak memperhatikan?" (Alquran As-Sajdah: 27)
Nabi Muhammad bersabda, “Waspadailah enam hal jelang Kiamat, antara lain kematianku, pembebasan Baitul Maqdis, dan dua kematian yang melanda kalian seperti penyakit kambing.” (HR Al-Bukhari).
Qu’as berarti penyakit yang menjangkiti kambing. Sejumlah riset terkini menyebutkan berjangkitnya penyakit sapi gila, penyakit mematikan yang menyerang tulang dan persendian. Namun hingga saat ini, pengobatan modern belum menemukan jawaban tentangnya.
Penyakit tersebut dapat menular dengan cara tertentu dari kambing ke sapi lalu ke manusia. Itu akibat pemberian pakan serbuk protein hewani kepada sapi yang diambil dari limbah tulang belulang ternak.
Kemunculan penyakit sapi gila sangat berpengaruh bagi manusia dan menjadi berita yang menggemparkan, serta menyebabkan kematian ratusan ribu orang di negara tempat berjangkitnya penyakit ini.
Kondisi itu berdampak langsung, bahkan bisa menggoyahkan perekonomian negara yang bersangkutan akibat terhambatnya ekspor daging ke luar negri.
Lebih buruk, negara terpaksa mengubah kebijakan pangannya dari semula pemberian pakan protein hewani kepada sapi, kembali kepada pemberian makanan alami berupa rerumputan yang menurut sunnatullah sudah menjadi makanan sapi yang semestinya. Bukan protein hasil olahan limbah tulang hewan ternak.
Siapa pula yang mengajari Nabi Muhammad akan muncul penyakit yang pernah menimpa hewan dan kini menimpa manusia, dan itu muncul pada paruh kedua abad 20 ini?
Bahkan penyakit ini dikenal sangat jarang terjadi dengan rasio satu berbanding satu juta.
Hadist Nabi sangat sesuai dengan apa yang terjadi pada peradaban manusia kini. Oleh karena itu, hadist pun dianggap sebagai mukjizat terbesar yang juga berbicara tentang perkara gaib karena telah menyebutkan kemunculan penyakit itu pada akhir zaman ketika Rasulullah sudah wafat.
Dua ayat pertama di atas juga menggambarkan mukjizat yang baik, yaitu makanan nabati untuk hewan. Dengan menyebutkan banyak sekali hasil pertanian yang diperuntukkan bagi manusia dulu, lalu selebihnya untuk hewan.
Itulah mengapa penyebutan manusia didahulukan daripada hewan dalam ayat tersebut. Adapun pada ayat kedua dijelaskan bahwa Allah mendahulukan penyebutan hewan ternak lalu manusia karena ayat hanya menyebutkan tanaman pertanian dan tidak disertai buah-buahan. Pemberian makanan kepada hewan ternak pastilah bergantung pada sejumlah tanaman pertanian seperti gandum dan jagung.
Sementara pemberian makanan kepada manusia bergantung pada tanaman pertanian, buah-buahan, dan juga daging. Pengetahuan ini dikutip dari Buku Pintar Sains Dalam Alquran.
(Dyah Ratna Meta Novia)