Sains Dalam Alquran, Sejatinya Manusia Hanya Bisa Melihat Orbit Bintang-Bintang

Ibrahim Al Kholil, Jurnalis · Senin 25 November 2019 11:10 WIB
https: img.okezone.com content 2019 11 25 614 2134033 sains-dalam-alquran-sejatinya-manusia-hanya-bisa-melihat-orbit-bintang-bintang-LJWPSDUIdR.jpg Manusia hanya mampu melihat orbit bintang-bintang (Foto: The Daily Galaxy)

Orbit bintang-bintang sudah diterangkan dalam Alquran yakni tempat beredarnya bintang-bintang.

Bahkan Allah SWT pernah bersumpah atas orbit bintang-bintang untuk menunjukkan begitu pentingnya orbit bintang-bintang itu.

 Manusia hanya mampu melihat orbit bintang-bintang

Allah Berfirman, "Lalu Aku Bersumpah dengan tempat beredarnya bintang - bintang. Dan, seseungguhnya itu benar-benar sumpah yang besar jika kamu mengetahui." (Al-Waqiah 75-76)

Sumpah dalam Alquran merupakan bentuk penarik perhatian orang-orang Islam secara khusus dan manusia secara umum terhadap isi sumpah. Sebab sejatinya Allah sama sekali tidak perlu bersumpah untuk meyakinkan hamba-hamba-Nya.

Manusia tentu heran dengan sumpah atas nama orbit bintang-bintang ini. Padahal bintang merupakan salah satu ciptaan Allah yang terbesar di alam semesta.

Bintang sendiri adalah gumpalan gas yang bersifat membakar, menyala, dan menyinari dari dalam dirinya sendiri. Cahayanya terus menyala selama jutaan tahun tanpa padam, sebagai akibat interaksi atom - atom di dalam dirinya atau dikenal dengan istilah proses peleburan inti atom.

Selama proses itu berlangsung, atom-atom seperti gas hidrogen, menyatu membentuk unsur-unsur atom yang lebih berat secara gradual.

Lalu mengapa Allah bersumpah atas nama orbit bintang-bintang, tidak dengan bintang-bintang itu sendiri?

Orang Arab pedalaman yakni suku Badui, pada masa Rasulullah mendengar ihwal sumpah Allah ini. Mereka pun berkata, "Orbit bintang-bintang sangat besar sehingga layak dijadikan sumpah atas namanya, juga karena tempatnya sangat jauh."

Sekarang kita bisa menemukan rahasia yang lebih besar terkait sumpah ini. Orbit bintang-bintang sungguh sangat menakjubkan bagi manusia.

Jarak antara kita dengan matahari saja sekitar 150 juta kilometer. Bintang terdekat dengan kita, yang berada di luar tata suryakita, berjarak sekitar 4 tahun 3 bulan cahaya. Satu tahun cahaya sendiri kurang lebih setara dengan 9,5 triliun kilometer.

Alam semesta yang sudah terpantau oleh manusia yang semuanya ada di langit dunia panjang diameternya mencapai lebih dari 20 miliar tahun cahaya. Sementara, di dalam galaksi kita saja telah ditemukan lebih dari 1 triliun bintang yang serupa matahari.

Di antariksa, terdapat lebih dari 200 miliar galaksi seperti kita. Sebagian jauh lebih besar daripada Bimasakti dan galaksi sebagian lagi sedikit lebih kecil.

Di sini kita bisa menemukan rahasia lebih besar terkait dengan sumpah ini. Sebuah rahasia yang belum diketahui oleh terdahulu. Mengapa Allah bersumpah atas nama orbit bintang-bintang, bukan atas nama bintang-bintang itu sendiri?

Jawaban yang bisa ditemukan oleh para ilmuwan sejak beberapa tahun belakangan adalah bahwa manusia dari permukaan bumi tidak mungkin bisa melihat bintang-bintang secara langsung. Namun manusia hanya bisa melihat orbit atau garis edar yang telah dilalui bintang-bintang itu.

Matahari, sebagai bintang terdekat dengan kita, berjarak sekitar 150 juta kilometer dari kita. Pancaran cahayanya baru sampai di kita setelah 8 menit 3 detik.

Matahari sendiri bergerak menuju bintang Vega dengan kecepatan 19,4 kilometer per detik, berputar mengelilingi pusat galaksi dengan kecepatan mencapai 220 kilometer per detik. Matahari terus bergerak, tetapi kita tidak melihatnya. Ketika kita melihatnya, sesungguhnya kita hanya melihat orbit yang telah dilaluinya.

Para ilmuwan mengatakan, bintang terdekat dengan kita selain matahari berjarak 4 tahun 3 bulan cahaya. Cahaya yang dipancarkannya akan sampai di kita setelah lebih dari 50 bulan. Pada saat cahaya itu sampai di kita, bintang itu telah bergerak ke tempat lain yang sangat jauh.

Tidak hanya itu, ada pula bintang yang cahayanya di orbit masih bisa terlihat di hamparan langit pada malam gelap gulita. Padahal, ilmu pengetahuan telah menetapkan bahwa bintang itu sesungguhnya telah meledak ribuan tahun yang lalu dan kini sudah tiada berwujud lagi.

Ini merupakan salah satu rahmat Allah kepada kita. Pasalnya, kalau manusia melihat bintang secara langsung, ia akan kehilangan penglihatannya. Inilah salah satu kilasan Alquran yang menakjubkan, dan tanda kekuasaan Allah.

Dengan demikian, bintang-bintang yang kita lihat pada malam gelap gulita hanyalah pancaran cahaya dari orbit yang telah dilalui oleh bintang-bintang. Bintang-bintang itu membiarkan cahayanya bergerak menuju kita dari orbit yang telah dilaluinya itu.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Tidak hanya itu saja. Orbit bintang menunjukkan ruang dan waktu. Besarnya suatu orbit menunjukkan adanya peningkatan waktu atau kematangan usia suatu bintang. Faktanya, ilmu pengetahuan modern menetapkan bahwa orbit bintang-bintang, baik dekat maupun jauh dari kita, selaras dengan usianya.

Ruang dan waktu merupakan sunatullah yang mengendalikan setiap ujung jagat raya, yaitu melalui hukum-hukum gravitasi yang tersebar di antara benda-benda angkasa.

Allah berfirman,

Alquran Surat Fatir Ayat 41

إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا ۚ وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ ۚ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

Arti: Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.

Di antara sunatullah adalah gaya gravitasi. Gravitasi mengendalikan sisi-sisi semesta dan berhubungan dengan orbit atau ruang-ruang hampa (ruang dan waktu) serta dengan massa dan energi.

Sumpah yang menakjubkan ini memberikan perhatian kepada ruang (tempat). Sebab, pemantauan orbit bintang-bintang merupakan titik tolak pengetahuan manusia mengenai cara Allah menciptakan alam semesta.

Ketika para ilmuwan mengamati bintang-bintang, mulai mempelajari orbit-orbitnya, dan menentukan sifat-sifat fisik dan kimiawinya, mereka menemukan bahwa alam semesta yang melingkupi kita ini adalah alam yang senantiasa mengembang dan meluas.

Bagaimana mereka bisa menemukan kenyataan tersebut? Mereka menemukannya melalui percobaan sederhana terhadap sumber cahaya yang dilihat dengan kaca prisma.

Kaca prisma itu menguraikan cahaya putih ketika berlangsung pembakaran olehnya menjadi tujuh spektrum warna yang memiliki panjang gelombang sendiri-sendiri. Tujuh spektrum itu adalah merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Jika sumber cahaya bergerak menjauhi kita, kumpulan warna itu akan beralih menjadi warna merah. Sebab, spektrum warna merah adalah yang paling pendek.

Jika sumber cahaya statis, kumpulan warna itu akan menampilkan tujuh spektrum warna tersebut. Namun jika sumber cahaya bergerak mendekati kita, kumpulan warna itu berubah menjadi spektrum biru, kemudian ungu. Sebab, spektrum ungu adalah yang paling panjang gelombangnya.

Ketika para astronom pada sepertiga pertama abad ke-20 menyadari bahwa cahaya bintang-bintang berubah ke arah spektrum warna merah, mereka bertanya-tanya apakah ini berarti bahwa bintang-bintang itu bergerak menjauhi kita?

Jika benar bahwa bintang-bintang itu menjauhi kita, apa peran dari gaya gravitasi? Maka timbullah perdebatan panjang selama semester pertama abad ke-20 hingga para ilmuwan sepakat bahwa semesta tempat kita hidup ini terus-menerus mengembang.

Mereka pun menyebutkan bahwa karena alam bersifat mengembang, galaksi- galaksi pun saling menjauh satu dari yang lain, dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya (300 ribu kilometer per detik).

Oleh sebab itu, manusia tidak akan pernah bisa menemukan batas pinggir alam yang bisa diamati. Pasalnya, setiap kali manusia mengembangkan peralatan astronominya, alam pun mengembang, sehingga manusia perlu mengembangkan peralatannya lagi. Alquran menggambarkan fakta ini dengan sangat detail, "Dan, langit Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan Kami benar-benar meluaskannya." (Adz-Dzariyat: 47).

Pengetahuan ini dikutip dari buku pintar Sains dalam Alquran, Mengerti Mukjizat Ilmiah Firman Allah, karya Dr.Nadiah Thayyarah.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya