nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Lawan Radikalisme, Dibutuhkan Ustadz-Ustadz yang Berdakwah dengan Cara Damai

Novie Fauziah, Jurnalis · Kamis 28 November 2019 04:36 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 11 27 614 2135102 lawan-radikalisme-dibutuhkan-ustadz-ustadz-yang-berdakwah-dengan-cara-damai-IVquKO6noA.jpg Melawan radikalisme (Foto: Asia Philantrophy)

Belum lama ini Indonesia kembali digemparkan dengan kasus bom bunuh diri di Medan. Ini merupakan salah satu ancaman radikalisme yang masih membayangi Tanah Air.

Guna mengatasi ancaman radikalisme, kita perlu mendalami kembali ajaran Islam untuk memberikan pemahaman yang lebih baik. Dibutuhkan ustadz-ustadz yang berdakwah dengan cara damai sesuai ajaran Rasulullah.

 Santri Muhammad Nawawi

Santri dari Pesantren Muallaf, Muhammad Nawawi mengatakan, secara pribadi ia memang sempat membaca kitab-kitab suci lainnya. Secara garis besar, atau benang merahnya itu sama yakni tauhid, sembahlah dia yang darinya semua ini berasal.

"Jadi saya di situ melihat bahwa substansi yang melatarbelakanginya semua ini adalah Allah. Namun implementasinya yang berbeda,” ujar pria yang juga penerima manfaat dari Dompet Dhuafa.

Menurutnya, ada beberapa oknum pemuka agama yang kurang bisa memberikan pemahaman yang sebenarnya. Mereka tidak bisa membuka percakapan dari sisi lain.

Misalnya yang dicontohkan pemuka agama seperti angka. Jika melihat angka 6, orang akan berpikir kalau itu benar-benar angka 6. Namun jika dilihat dari sisi lain, angka tersebut bisa juga dilihat sebagai angka 9.

“Di situlah saya melihat, dalam proses panjang ini, saya bertemu dengan beberapa orang yang bahkan tidak mau disebut sebagai pemuka agama. Namun pemahaman mereka bisa dibilang jauh di atas ustadz pada umumnya. Setidaknya itu bagi saya," ujar Nawawi kemarin.

Pemahaman mereka, terang Nawawi, lebih mengayomi, lebih objektif. Ketimbang pemuka-pemuka yang susah memberikan pemahaman. "Inilah tantangan Islam terbesar."

"Kenapa? Kalau kita perhatikan sekarang, banyak (oknum pemuka agama) yang sibuk mengkafir-kafirkan. Saya menyayangkan hal-hal seperti itu, karena Rasulullah sendiri dalam berdakwah selalu menggunakan cara yang damai. Bukan dengan cara men-judge dan mengkafirkan seperti itu,” jelas Nawawi.

Nawawi mengaku bersyukur, dengan adanya ustadz-ustadz di Pesantren Muallaf, Tangerang Selatan, Banten.

”Alhamdulillah, ustadz-ustadz di sini, sangat enak. Maksudnya nyaman. Kita tanya apapun kepada mereka. Dan mereka mencoba menjelaskan dari posisi kita. Tidak ada pemaksaan kehendak. Tapi lebih kepada memahami kita," terang Nawawi.

"Ustadz Aang, Ustadz Fajar, dan Ustadz Aris semuanya mampu menjelaskan dengan baik sehingga kita dapat apa yang kita harapkan," tambahnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini