Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ajaran Rasulullah, Tujuan Pendidikan Mencapai Ketakwaan

Novie Fauziah , Jurnalis-Jum'at, 29 November 2019 |16:57 WIB
Ajaran Rasulullah, Tujuan Pendidikan Mencapai Ketakwaan
Santri belajar agama dan kemanusiaan (Foto: India Today)
A
A
A

Rasulullah SAW menekankan pentingnya pendidikan dalam kehidupan. Sebab pendidikan merupakan hal yang penting untuk membangun peradaban yang tinggi di dunia ini.

Dengan adanya pendidikan, ilmu-ilmu yang sudah terdahulu disampaikan bisa disalurkan bahkan dikembangkan. Pendidikan yang berhasil akan melahirkan generasi-generasi yang berpengetahuan luas dan bertakwa. Rasulullah SAW bersabda,

إذا أتَى عَلَيَّ يَومٌ لَا أَزدَادُ فِيهِ عِلمًا يُقَرِّبُنِي إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَلَا بُورِكَ لِي فِي طُلُوعِ شَمسِ ذلِكَ اليَومِ

Artinya: “Jika suatu hari mendatangiku sedangkan di hari itu ilmuku tidak membuatku dekat kepada Allah, maka aku tidak diberkahi sepanjang hari itu.”

 Kisah Nabi

Rasulullah mengajarkan, tujuan akhir dari proses pendidikan adalah untuk mencapai derajat ketakwaan.

Salah satu hal yang menjadi faktor keberhasilan pendidikan adalah menghormatinya murid kepada sang Guru. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Az-Zarnuji dalam kitab ta’limal muta’allim

اِعْلَمْ بِأَنَّ طَالِبَ العِلْمِ لَا يَنَالُ العِلْمَ وَلَا يَنتَفِعُ بِهِ إِلَّا بِتَعظِيمِ العِلمِ وَأَهلِهِ وَتَعْظِيمِ الأُسْتَاذِ.

“Ketahuilah bahwasannya seorang pencari ilmu tidak akan bisa memperoleh ilmu dan tidak akan mendapatkan manfaatnya kecuali dengan menghormati ilmu, ahli ilmu, maupun guru.”

Seperti dilansir website Pondok Pesantren Lirboyo, begitu berjasanya seorang guru, sampai-sampai sahabat ‘Ali kwh mengungkapkan,

أَنَا عَبْدُ مَنْ عَلَّمَنِي حَرْفًا وَاحِدًا إِنْ شَاءَ بَاعَ وَإنْ شَاء استَرَقَ.

Artinya: “Aku adalah hamba seseorang yang mengajariku satu huruf. Jika dia mau dia menjualku, dan jika dia mau dia menjadikanku budak.”

Dengan kita mempunyai ilmu, maka kehidupan kita menjadi semakin terasa hidup. Karena ada pepatah mengatakan:

“Orang-orang berilmu akan tetap hidup dan abadi setelah wafatnya, meski tubuhnya telah berkalang debu menjadi serpihan tak berarti. Sementara orang yang tak berilmu tak ubahnya bangkai yang berjalan di atas tanah, ia dianggap hidup padahal ia telah mati”.

Begitu berharganya ilmu, maka sudah selayaknya kita menghormati para guru yang sudah mendidik kita.

Dengan demikian, kita bisa mendapatkan ilmu yang berkah bagi diri kita dan bermanfaat bagi orang lain.

(Dyah Ratna Meta Novia)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement